Cerita Bosnia 3 : Jumatan serasa di kampung

shalat jumat di bosnia

Walau letaknya di Eropa, menjumpai mesjid di Sarajevo sangatlah mudah. bentuk juga beraneka ragam ada yang berkubah dan bermenara sehingga mudah dikenali bahwa itu mesjid, tetapi ada pula yang seperti rumah biasa. Seperti selama saya tinggal dihotel, saya tidak tau kalau disebelah hotel adalah mesjid.

Bangunananya seperti sebuah rumah berhalaman dengan pintu berteras kecil. Kala memasukinya memang kecil di sebelah kanan langsung saya jumpai tempat wudhu dan sebelah kiri ruangan seperti untuk belajar, masuk ruang utama itulah mesjid dengan ruangan besar.

Saat memasuki mesjid dengan mencopot sepatu menaruhnya di rak dan kebetulan saya sudah berwudhu dari hotel  jadi langsung dapat memasuki ruang utama.  Waktu jumatan jam 13.00 dan saya tiba 15 menit sebelumnya dan ruang utama sudah penuh dan saya melihat ada orang menuju tangga dan saya mengikutinya, rupanya itu ruangan lantai 2 dan menyerupai balkon dan bisa terlihat keadaan orang shalat di lantai utama. di bawahnya.

Saya lalu mengambil duduk persis didepan balkon, penasaran ingin melihat secara detail proses pelaksanaan shalat jumat disana. Menjelang waktu jumat dibacakan murotal Quran langsung tidak melalui kaset ada seseorang yang membacanya dan terlihat jamaah dengan hikmat menyimak. Tasbih tersedia di sepanjang dinding, pokoknya mudah dijangkau, sepertinya pihak mesjid menginginkan tiada yang dilakukan seseorang kala dimasjid selain berzikir kepada Allah.

Tibalah waktu shalat, dan orang disebelah saya langsung berdiri dan mengumandangkan azan, saya tidak menyangka kalau disebelah saya adalah bilal. Bacaan azannya merdu dan membuat khusyuk yang mendengarnya. Setelah azan semua jamaah berdiri melakukan shalat sunat.

Setelah semuanya shalat sunat mutlaq, bilalpun kembali mengumandangkan  bacaan memanggil khotib untuk naik mimbar dengan bacaan shalawat..  innaloha wa mala ikatahu yu solluna Allannabih dstnya…tersentak melihat bacaan dan iramanya persis seperti saya shalat dikampung yang selalu bershalawat menjelang masuknya khutbah jumat.

Selesai itu sang Imam menaiki mimbar. Mimbar juga mirip dengan di Indonesia dengan beberapa anak tangga, sang khotib lalu menaiki tangga, hanya sampai tangga ke 7 dari 10 keseluruhan, dia lalu mengucapkan “assalamualaikum”. Selesai itu Bilal langsung mengumandangkan azan yang kedua yang iramanya tidak sepanjang pertama.  Khutbahpun kemudian di mulai

Saya berkata dalam hati: “waduh bahasanya Bosnia,” Cuma saya ingat walau tidak mengerti paling tidak bacaan ayat al Quran dan beberapa hadist yang dipakai sang khotib dapat dipahami dan secara rukun shalat itu tetap sah. Kala berhenti di 2 kuthbah, khotib membelakangi jamaah menghadap ke mimbar sambil berdoa diikuti jamaah lainnya yang khusuk karena paham waktu 2 khutbah itu sangat ijabah. Tak lama khotibpun melanjutkan khutbah kedua yang umumnya berisi doa.

Selanjutnya bilal membaca iqomah untuk shalat jumat. Selesai shalat jumat bilal membaca doa shalat “Allahuma antas salam wa minkas salam dstnya…dan proses shalat jumat selesai.

Baiklah, dari proses dan rangkaian shalat jumat seperti azan 2 kali, begitu juga bacaannya, tata caranya,  mashaallah itu semuanya mirip seperti shalat jumat di kampung saya sendiri, padahal ini sudah dipisahkan ribuan mil daratan dan lautan.

Selesai jumatan saya menegur teman sebelahnya yang bilal itu dan menyebut namanya Jasmin dan bekerja sebagai marbot mesjid disitu bersama dengan bapaknya sembari menunjuk sedang menunggu sepatu di bawah. Bapaknya juga sibuk menghitung  jariah jamaah yang ditempatkan dalam sebuah baki, sehingga tidak dikenal kotak amal.

Dia lanjut bercerita bahwa nama Mesjid ini adalah Hasan Zade Cobanija seorang imam pada masa Turki Usmani. Jasmin ini ganteng dan berpakaian modern tidak menyangka kalau dia adalah bilal. Bertemu warga muslim Bosnia bukan hal yang pertama, pada saat saya bertugas di Chicago saya selalu mampir ke mesjid mereka disana di kawasan Northbrook di sebelah utara Chicago. Kala itu Pemerintah AS memang menyiapkan pemukiman khusus bagi mereka yang terusir akibat perang pada tahun 1992 itu

Itulah pengalaman saya shalat jumat di negeri Bosnia Herzegovina.

Jumuah Mubarak

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.