Cerita Bosnia 6: Budaya Jalan Kaki di Sarajevo

walking in sarajevo.png

BUDAYA JALAN KAKI DI SARAJEVO

Hampir di semua kota besar di Eropa, Amerika, kini menyusul di Asia seperti Hongkong Shanghai, Tokyo kita jumpai trotoar dipenuhi pejalan kaki kala melakukan aktivitas kerjanya. Pemandangan serupa ditemui di Sarajevo, pemandangan orang yang berangkat kerja menjadi yang menarik bagi saya untuk di ulas.

 

Pagi ini temperatur menunjukkan 12 derajat, lumayan dingin tapi saya memutuskan berjalan kaki ke kantor. Cek di google dari hotel ke kantor tidaklah lebih 1 km, “nggak jauhlah hitung hitung olah raga pagi” pikir saya. Istri juga ngikut lumayan nggak sendirian.

Keluar hotel saya langsung mengambil jalur andalan wisata menyusuri sungai Miljacka yang membelah kota Sarajevo. Jalur pedestrian di buat lebar sangat nyaman untuk pejalan kaki, beberapa pejalan kaki untuk ukuran kita jalannya rada terburu buru tidak santai mungkin sudah kebiasaan jalannya begitu.

Yang seru kala berjalan itu menjumpai sesama pejalan kaki, kala ada yang cantik saya nyeletuk ke istri “Oh ini yang bikin betah jalan kaki di kota ini ya” mendengar itu istri saya santai az saya dalam hati berkata: “Tumben nggak marah he he alhamdulilah”…Iya istri saya sudah hafal dengan kelakuan saya yang memang tidak melewatkan kalau ada yang indah lewat…ha ha.

Menyusuri jalur sungai ini beberapa cafe sudah buka melayani pejalan kaki yang belom sempet sarapan atau sekedar memesan kopi. Beberapa kedutaan ada di pinggir sungai itu yaitu Iran dan Jerman lalu akademi Seni Sarajevo dengan jembatan cincin kami menyebutnya memang persis seperti cincin.

Sungai agak coklat, menurut info warna itu biasa karena ada erosi di pegunungan karena hujan yang terjadi hari sebelumnya, biasanya bening dan ada beberapa bangau yang hinggap di sungai itu.

Menyusuri sungai nampak perubahan lanscape dari kota sarajevo, di awal perjalanan berisi bangunan tua dan terus berjalan memasuki kota baru dengan gedung gedung barunya dan Mall Sarajevo City Center. Kami juga melewatii Kasino The Colloseum sekedar berfoto, belum tergerak untuk masuk dan main he he, untungnya pagi emang belum buka sih.

Tidak jauh dari situ sekitar 300 m belok dengan jalan menaik kita tiba di lokasi KBRI di jalan Splitska. Ya ternyata tidak jauh, mungkin karena suguhan yang indah indah az di jalan membuat jarak jadi dekat.

Satu hal yang saya sangat respect adalah hormatnya kendaraan terhadap pejalan kaki kala melintas di Zebra Cross yang tidak ada traffick lightnya. Kami alami sendiri, jarak ke zebra cross masih 3 m saya berniat jalan menyebranginya. Saat pengendara mobil melihat ada yang mau nyebrang, semua mobil langsung antri berhenti tanpa di komando dan terlihat ada kendaraan yang dalam keadaan kencang dengan susah payah juga akhirnya berhenti di garis Zebra Cross.

Sempat kaget kami,,ada apa? ..,eh ternyata mereka nungguin kita menyebrang. Kita gak nyadar kalau pejalan kaki diberlakukan bak raja yang mau lewat he he. Kebayang kalau di Jakarta ya kalau mau nyebrang di Zebra Cross susah banget, mau nunggu sepi kendaraan gak putus putus, bisa kaku kitanya nunggu mau nyebrang doang. Mau maksaain nyebrang bisa di umpat mobil” Tunggu sepian dikit napa” apalagi kalau mereka sempet nginjak rem tambah marah….hadeuh kasian ya.

Ok kembali ke budaya jalan kaki di Sarajevo, kondisinya berbeda dengan di Indonesia. Pemerintah kota Jakarta misalnya sedang giat melebarkan trotoar terutama di jalan utama seperti Sudirman Thamrin dimana jalur lambat di sulap jadi pedestrian.

Tetapi apa, menumbuhkan budaya jalan kaki ternyata sulit…iya banyak yang bilang alasannya panas. Di luar sana udaranya nyaman dan enak buat jalan kaki. Wajar di salah satu hasil survey katanya Indonesia adalah orang yang termalas dalam hal jalan ini.

Saya juga alami sendiri di lingkungan jarak rumah ke stasiun hanya 500 m, cuma kalau saya jalan kaki selalu di ledek ojek yang lewat “gak punya duit ya jalan ” mendengar itu siapa coba yang nggak panas ya ,terpaksa akhirnya ngojek.

Adanya ojek online menurut saya malah makin males karena jasa antar orang itu sampai titik tujuan tanpa orang harus banyak berjalan. Kala musim hujan makin bertambah manja ga mau jalan seperti lagu Cinta Laura “hujan lg jalanan becccyyek ga ada ojek”..ha ha

demikian cerita ini…selamat beraktivitas.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.