halal fair 2

Kala menghadiri Sarajevo Halal Fair, menarik apa yang disampaikan para keynote speakers diantaranya adalah PM Malaysia, Mahathir Muhammad lalu sambutan dari PM Bosnia Herzegovina Denis Zvizdic dan pembukaan pameran dilakukan oleh Grand Mufti atau Rais ulama Bosnia Herzegovina Husein Kavajovic.

Pembukaan sebuah Pameran Internasional yang dilakukan oleh Grand Mufti buat saya menarik, kenapa bukan oleh PM Bosnia Herzegovina. Mungkin karena saya menggeneralisasikan hal itu dengan kedudukan MUI di Indonesia. Ternyata dalam Konstitusi di Bosnia Herzegovina kedudukan Grand Mufti dan Presiden adalah sejajar.

Saya pelajari lagi kalau Grand Mufti membawahi seluruh Komunitas Muslim tidak saja di Bosnia tetapi di perantauan juga di seluruh dunia dimana ada komunitas muslim Bosnia berada.

Dalam pembukaan Grand Mufti menyampaikan bahwa Allah memerintahkan kita untuk memakan makanan yang halal dan baik, Halalan Thoyyiban sebagaimana tertuang dalam Al Qur’an, Surat Al Maidah ayat 88.

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya”.

Disebutkan lebih lanjut oleh beliau upaya mendapatkan halal itu tidaklah cukup namun upaya mendapatkan yang baik (thoyib) harus terus diupayakan. Dalam kaitan pameran ini penyajian produk makanan misalnya harus terkandung unsur baik dalam artian makanan itu harus aman (secure) untuk di konsumsi dan sehat (healthy) dan berkualitas (quality).

Dalam pameran diharapkan semua peserta dapat saling belajar tukar pengalaman dan pengetahuan terkait pengelolaan produk halal agar dapat mencapai standar thoyib tersebut. Karena itu keberadaan lembaga sertifikasi dan standardisasi halal termasuk berbagai inovasi untuk pengembangan halal harus terus diupayakan bersama sehingga itu dapat menjadi prinsip atau way of life.

Sarajevo Halal Fair ini diselenggarakan pada tanggal 27-29 september 2018, sebagai event pertama kali prakarsai oleh Bosna Bank Internasional. Bosnia Herzegovina berharap posisi strategis di SEE (Southeastern Europe) dapat menjadi hub untuk produk halal untuk regional Balkan dan Eropa lainnya. Pameran SHF tidak hanya menampilkan produk makanan, tetapi produk pakaian, kosmetik, perbankan, wisata dan hotel serta jasa lainnya yang terkait halal. Dalam penyelenggaraannya ada 91 booth dari 14 negara.

Perusahaan Indonesia kali ini belum berpartisipasi, namun KBRI menyajikan demo untuk beberapa makanan halal seperti nasi goreng dan sate yang mendapat atensi besar pengunjung pameran.

Mengingat sukses penyelenggaraan ini diharapkan tahun depan Indonesia dapat hadir, mengingat saat ini Indonesia di kenal tidak saja produk makanan tetapi pakaian yang sudah menembus global terkait fashion dan lifestylenya, begitu juga perbankan shariah dan destinasi wisata shariah unggulan di beberapa wilayah di Indonesia.

SHF melengkapi penyelenggaraan event internasional di Sarajevo yang diawali Sarajevo Business Forum (SBF) Sarajevo Film Festival (VIVA) dan SHF ini.

Wallahu a’lam