Cerita Bosnia 49 : Penuturan Dokter Indonesia pada perang Bosnia

Ini kisah Keharuan pelaku sejarah perang Bosnia Dokter Fauzi Nasution saat berkunjung ke Tunnel of Hope di Sarajevo.

Kali ini saya mendapat info yang sangat berharga dari pelaku langsung dalam perang bosnia ialah dokter Fauzi Nasution seorang dokter kepala pada UNHCR pada saat kejadian perang bosnia yg berkunjung ke Sarajevo kemarin.

Kala mengunjungi tunnel of hope sontak kesedihan terburat di wajahnya teringat pada masa itu lewat terowongan korban dibawa utk di tangani di rumah sakit UN di pegunungan Igman. Dalam sehari sekitar 50-200 korban perang kebanyakan bosnia diungsikan untuk mendapat pelayanan.

Tunnel of hope adalah sebuah terowongan yg dibangun tentara Bosnia saat pengepungan terjadi di sarajevo oleh tentara Serbia menyusul hasil referendum menetapkan Bosnia sebagai negara merdeka 1 maret 1992 dan pengakuan Uni Eropa pada 6 April 1992.

Serangan berawal dari serbuan Ratko Mladic pada Mei 1992 dan dimulailah perang dari bangsa yang sebenarnya bersaudara ini.

Dari kemampuan militer dan pertahanan Bosnia tidak berimbang karena Croatia juga berpihak pada Serbia untuk menekan Bosnia. Semangat dan daya juang pantang menyerah itulah modal tentara Bosnia bertahan dari pengepungan yg mencapai 1425 hari itu.

Kondisi semakin sulit kedua pihak juga dimasuki milisi seperti Serbia banyak diperkuat tentara Ukraina dan Rusia begitupula dari Bosnia datang milisi dari negara Islam utamanya timur tengah dan bahkan tercatat ada beberapa warga Indoneaia dari aceh ikut serta membantu.

Menurut Dokter Fauzi benar dulu bentukan brigade 7 tentara muslim yang dipimpin jenderal Halil adalah yang paling ditakuti serbia karena tidak mengenal kata mundur kala bertempur. Beberapa petinggi militer UN dari Inggris yakni Harris juga ikut membantu Bosnia dalam penguasaan senjata dan taktis perang, mengingat UN sendiri juga terancam dengan aksi brutal Serbia mengepung Sarajevo dan tidak memperdulikan masyarakat sipil.

Keberadaan terowongan penyelamat tunnel of hope adalah jalan keluar dari pengepungan dan tidak tercatat adanya gambar konstruksi dan perencanaanan sebelumnya. Kala itu di kedua ujung landasan bandara di kuasai Serbia namun pintu utara dan selatan bandara adalah wilayah Bosnia dan bandara sendiri dikuasai UN.

Terowongan dibangun seadanya krn pasokan alat berat juga tidak mungkin didatangkan bekerja siang malam. Penggalian dilakukan pada maret 1993 dan baru selesai 4 bulan kemudian pada bulan juni. Terowongan panjangnya 800 m dengan lebar 1 m dan tinggi 1.60 m. Didasar terowong ada semacam rel yg digunakan sebagai pijakan roda lori memudahkan membawa korban menyusuri terowongan. Ujung selatan ke Dobrinja dan Butmir wilayah Bosnia dan terus menghadap ke pegunungan Igman.

Yang menarik terowongan ini luput dari tentara Serbia dan kerahasiaannya terjaga selama perang bosnia berlangsung. Ujung utara terowongan berada di dalam rumah petani biasa dan seharusnya mudah mendeteksi rombongan penduduk dan logistik lalu lalang kerumah itu mengingat Serbia juga memiliki inteligen yg hebat.

Dokter Fauzi bilang kalo tentara Bosnia ini pinter menjaga rahasia dan korban perang dibawa ke rumah itu bersama gerobak hasil hasil pertanian jadi luput dari perhatian tentara Serbia. Hanya pernah bagian terowongan terkena tembakan mortir sehingga runtuh dan banyak korban yang terjebak dan segera itu terowongan juga diperbaiki.

Sebagai dokter bedah banyak korban perlu penanganan amputasi terkait tembakan, menurutnya sepanjang peluru tdk mengenai jantung korban dapat diselamatkan. Yg menarik katanya banyak bagian alat vital jadi sasaran karena tentara serbia untuk menandai muslim tidaknya adalah dengan melihat sudah di khitan atau tidak…ini bagian paling ngeri saya mendengarnya.

Setelah dari Tunnel Dokter Fauzi minta jalan ke sniper alley dan bercerita bagaimana tenangnya presiden Suharto yg turun dari panser UN dari bandara berjalan sekitar hampir 1km dari sarajevo hotel ke istana presiden Alija Izetbegovic. Suharto yg berjalan tanpa rompi anti peluru berhasil menaikkan moril tentara Bosnia untuk bertahan.

Menurut Dokter Fauzi tipis kemungkinan Presiden Suharto menjadi target Serbia karena tahu kedekatan Indonesia dgn Yugoslavia dan sama sama pemimpin nonblok dan pemimpin negara di Asean dan penduduk muslim terbesar.

Kunjungan Suharto pada Maret 1995 ditengah kecamuk perang ini dinilai berhasil dan keberaniannya ini diakui semua negara. Pada november tahun 1995 kemudian perjanjian Dayton peace ditandatangani pada november 1995 mengakhiri pertikaian etnis di Bosnia Herzegovina.

Di penghujung cerita Dokter Fauzi berharap semoga perang tidak ada lagì di Balkan dan jangan ada lagi agama dan suku menjadi alasan permusuhan
Sesungguhnya manusia dilahirkan dari Bapak yg sama Adam AlaihisSalam

Demikian ceritanya..selamat pagi semua

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.