Cerita Timor-Leste 6: Perjuangan dan kenekatan menaklukkan gunung Ramelau

ramelau

Dalam setiap penempatan saya selalu mencari spot menantang untuk ditaklukkan menjangkau wilayah remote dan menaklukkan gunung disana. Saya sudah dengar di Timor-Leste ada gunung tertinggi disana yaitu gunung Ramelau dengan ketinggian 2986 m.

Dalam setiap petualangan daerah baru banyak hal yang dapat dipelajari untuk menambahkan wawasan terkait masyarakat dan bagaimana budayanya sehingga kita semakin mengenal negara tersebut dengan sangat baik.

Petualangan kita mengembara berawal dari kenekatan kami ada 7 orang dari KBRI rencananya hanya jalan jalan di desa lereng Ramelau yaitu Hatubilico. Desa ini tidak jauh dengan Letefoho sebagai penghasil kopi terkenal di Timor-Leste berada di distrik Ainaro.

Kamipun segera mencari penginapan dan ketemu sebuah guesthouse dengan tarif 45 dolar permalam dengan sarapan pagi. Alhamdulilah. Sampai disana kita bertemu banyak rombongan sebagian besar warga asing, kami bertemu dengan warga swedia dan Korea yang berniat mendaki.

Jadi dari awalnya hanya ingin jalan jalan di Hatubilico, kami tertantang kenapa tidak ikutan mendaki saja. Kata seorang teman ” Gila kita kan gak punya alat untuk mendaki, pakaian kita juga kurang mendukung ” Teman lain menimpali “Alah kapan lagi sudah sampai disini itu penduduk sini katanya turun naik gunung itu… kan di puncak ada tempat misa”

Mendengar itu kami berkesimpulan bahwa jalur pendakian itu entenglah dan kami sepakat untuk mendaki. Kami terus mencari penunjuk jalan dan ketemulah dengan bayaran 50 dolar per grup…lumayanlah daripada nyasar. Kami disuruh tidur lebih sore karena jam 2.00 dini hari kita akan berangkat.

Kita akhirnya berangkat menaiki mobil sekitar 3 km menanjak hingga akhir dari mobil bisa mendaki. Pintu pendakian didalamnya berdiri sebuah rumah dengan berbagai  ornamen dan patung keagamaan dalam hal ini katolik kamipun duduk disana untuk mengatur strategi pendakian.

Awal memulai beberapa dari kita deg degan akan sampai tidak?, dengan bekal yang minim beberapa botol aqua dan makanan ringan. Tidak lama berembug dengan penunjuka jalan yang menerangkan sulitnya pendakian setelah etape memasuki hutan, ada 2 orang langsung menyatakan mundur tidak sanggup dan pesan penunjuk jalan bahwa turun dan naik ke gunung itu harus bersama kalau ada yang tidak mampu harus didorong semangatnya untuk terus.

2 orang ini memilih untuk tinggal dan kami yang berlima  tetap melanjutkan pendakian. Kami terus naik dengan di pandu penunjuk jalan. Tangga pendakian selesai dan mulailah memasuki hutan dan tebing gunung, Karena malam hari kami santai jalannya karena lereng tidak terlihat dan kebetulan bulan bersinar cukup terang,

Kami terus becanda dan selalu menanyakan penunjuk jalan sudah dekatkah?…penunjuk jalan bilang” tenang masih ada beberapa belokan lagi” seorang teman nyeletuk ” aduh gak sampe sampe” Pendakian mulai menemui beberapa medan yang sulit yang wajib diantara kita bekerjsama saling mendukung satu sama lain.

Bila ada yang capek kita hibur dan dipompa semangatnya. Kamipun berpacu dengan waktu berharap kala diatas menjumpai matahari terbit. Mengerti itu kamipun bergegas lagi dan semangat untuk lanjut pendakian. Benar kata orang di hamparan dataran luas menjelang puncak ada tempat misa lengkap dengan meja dan kursinya tertata rapi. kamipun sementara istirahat kata penunjuk jalan puncak sekitar 30 menit lagi sampai.

Disinilah kami kaget saat menanyakan masih adakah logistik aqua atau makanan, eh ternyata perbekalan dipegang 2 teman kita yang tinggal, mereka lupa menitipkan. Kami sadar kala itu untuk tidak saling menyalahkan sambil berucap.”Ya ampun gimana ini puncak masih jauh dan pasti butuh air untuk menjaga stamina. “alhamdulilah bolak balik di tempat misa kami menemukan sebotol Aqua..mungkin ini tertinggal oleh pendaki lainnya…sebotol aqua sementara kita berlima, kami hemat hemat banget air itu untuk bekal sampai ke puncak.

Kami kemudian lanjut terus mendaki dan curamnya pendakian membutuhkan energi dan air juga semakin habis. kamipun berlima kehausan dan berkata :”kalau saja ada ular yang lewat pasti saya hisap” horor banget ya ucapannya. Kamipun melihat lihat barangkali ada pohon yang berair seperti umbi umbian…asli gak ada semua kering dan hanya batu.

Teman kami yang satu sudah menyerah dan kamipun terus menuntun.  Suhu semakin dingin mendekati 5 derajat. Terlihat rombongan pendaki yang bareng penginapannya dari Swedia mereka malah sudah bergerak turun. Yang lucunya mereka banyak cara untuk mengatasi dingin saya lihat satu pendaki membawa selimut tebal penginapan untuk membungkus dirinya. Mereka az demikian mengatasi suhu, sementara kita yang yg asli tropis kurang persiapan hanya mengandalkan jaket tipis…menggigilah kita dengan sangat.

Kamipun jalan dan fajar sudah menyembul kita sudah berada hampir dipuncak. kami mamandang ufuk luar biasa pemandangannya. kami berfoto bersama mengagumi keindahan alam. dan kami segera lanjut ke puncak dan sampai diatas kami menemukan bangunan dengan puncak berupa patung bunda Maria. Gak kebayang bagaimana membawa patung tersebut ke atas. Patung itu sumbangan Itali, kelihatannya dibawa menggunakan helikopter. Diatas itu juga tertancap menara Telkomcel  ….bangga juga dengan BUMN kita ini sdh sampai keatas.

Tak lama disana karena angin sedemikian keras dan suhu yang menggigil setelah berfoto, kamipun pelan pelan beranjak untuk turun. Puas rasanya bisa menaklukkan gunung tertinggi di Timor Leste. Saat menuruni gunung saya melihat lereng curam di jalur lintasan pendakian saya bertanya kepada penunjuk jalan inikah yang kita lewati?. kata dia “benar” penunjuk jalan sengaja tidak memberitahu biar kitanya tidak ngeri dan takut untuk terus mendaki.

Penurunan relatif lebih mudah dan dalam waktu 2 jam kita sudah sampai ke pos awal pendakian. sebelum sampe kita sudah minta kepada teman yang dibawah untuk siapkan makanan dan minuman karena memang sudah sangat haus dan lapar. Begitulah ceritanya para pendaki nekat yang minim persiapan, namun sampai juga di puncak dan kala mengenangnya kami antara percaya dan gak percaya.

Untuk kenang kenangan teman temanku Aryo Jaklin Iskandar dan Andri dan belum kesampaian Diana dan Rama terima kasih semua.

Wallahu a’lam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.