3 macam makrifat

 makrifat 2

Beberapa buku tasawuf membagi makrifat dalam 3 hal yaitu:

  1. Makrifat karena Allah
  2. Makrifat karena dalil
  3. Makrifat karena ikut-ikutan (taklid)

Secara kasat mata dan faktual orang yang melakukan 3 macam makrifat itu sukar dibedakan. Perbuatan dan amal dalam melaksanakan makrifat kadang terlihat lebih khusyuk dan serius menjalaninya. Namun sekali lagi makrifat bukanlah hal yang bersifat lahir namun memiliki dimensi batin.

Makrifat dengan dalil ditandai orang itu ahli dan fasih dalam menguraikan dalil-dalil atau riwayat para sufi yang ada mengerti konsep dan tatacara untuk dapat bermakrifat kepadaNya. Makrifat serupa ini dikenal juga dengan makrifat syar’iyah.

Sedangkan makrifat yang ikut-ikutan atau taklid, definisinya jelas yaitu orang yang secara total atau taklid mengikuti perbuatan ahli sufi tanpa mengetahui banyak mengenai kandungan ilmunya.

Sementara itu makrifat karena Allah atau makrifat batiniyah adalah makrifat yang tertinggi yang dimiliki para aulia dan wali. Dimensi sudah pada hati, tidak saja berisi kecintaan kepada Allah namun sudah mengarah pada kerinduan kepadaNya. Kedekatannya kepada Allah dapat melahirkan karomah kepadanya.

Seorang yang bermakrifat hanya kepada Allah mampu memahami rahasia Allah melalui bahasa Allah (Kalamullah) yang tidak beraksara dan tidak bersuara. Karena itu, tampilan ilmu mereka tidaklah selalu dalam kefasihan lisan atau sarat dengan dalil-dalil atau panjangnya periwatan untuk menemukan kebenaran yang haq, namun sebaliknya tampilan lisannya juga sederhana simpel, namun akan  sangat mengena dan menyejukkan hati bila bicara.

Sheikh Abdul Kadir Jailani memberikan isyarat / tanda  seseorang yang bermakrifat kepada Allah, adalah orang yang tidak memiliki lisan namun memiliki hati. Dengan begitu Allah telah membukakan mata hatinya sehingga bisa melihat kekurangan dirinya dan mampu menerangi hatinya.

Karena itu orang serupa ini sukar ditemukan dan pastinya disembunyikan oleh Allah, karena wujud kasih sayangNya untuk melindunginya dari tipu daya dunia. Dengan golongan ini baiknya pergaulilah dan berkhikmadlah kepadanya niscaya Allah juga akan mencintaimu.

Menyadari keutamaan agar bermakrifat hanya pada Allah, maka siapa yang berakal hendaknya dapat mengerahkan seluruh kemampuannya dalam menuntut ilmu makrifat dan tidak menunda-nundanya.

Janganlah itu terjadi kala maut menjelang,  kebutaan karena kebodohan menimpa karena tidak bersegera bermakrifat. Dan siapa yang buta didunia sekarang, maka diakhirat kelak akan menjadi lebih buta lagi dan sesat jalan (Tanwirul Qulub)

Wallahu a’lam

3 Comments Add yours

  1. agunari says:

    ga ada marifat ikutan ikutan

  2. sayyid says:

    Assalamualaikum wr.wb,
    Banyak yg berpendapat bahwa Allah tidak dapat dilihat didunia.
    surat al araaf ayat 143.

    143. وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
    Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.

    Sebenarnya pendapat ini adalah tidak benar.

    Nabi musa a.s memang tidak sanggup melihat Allah dengan matanya (panca indra) karena Allah bukanlah makhluk.Allah menyuruh nabi musa a.s melihat ke bukit itu agar dapat melihat Allah tetapi kenyataannya gunung tersebut telah hancur luluh.
    mengapa? karena gunung enggan memikul amanah karena khawatir akan mengkhianatinya.

    seperti firman Allah dibawah ini.
    إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً
    “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah (yaitu menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan seluruh larangan-Nya) kepada seluruh langit dan bumi serta gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh. ” (Al-Ahzab: 72)

    Dengan ayat ini jelaslah bahwa nabi musa a.s telah melihat Tuhannya bukan dengan mata jasadnya tetapi dengan mata hatinya dan dengan firman Allah ini jelaslah sudah bahwa manusia selain nabi pun dapat melihat Allah karena firman ini ditujukan kepada manusia yg dapat memikul amanat bukan para nabi saja.

    Inilah makrifat yg sebenarnya.
    semoga bermanfaat,

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya

    1. mahendraza says:

      Waalaikum salam
      Setuju pak Ustadz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.