Cerita dari Timor Leste 8: Informasi penting justru dari pesantren

1616578Warga-di-Motaain-Perbatasan-RI-Timor-Leste-berusaha-menyalami-Presiden-Jokowi780x390

Kala penempatan di Dili, beruntung sekali saya bisa ngaji sebulan sekali di pesantren Al Muhajirin yang berlokasi di Atambua, sebuah kota di perbatasan Indonesia dan Timor-Leste. Kegiatan menyambangi wilayah Indonesia terdekat sudah menjadi agenda rutin sekedar ingin rasakan nasi padang berlaukan ayam atau ikan goreng di resto beringin atau ikan kuah kuning di resto puti bungsu.

Kadang pernah ke batas dilakukan hanya weekend pulang hari tanpa menginap hanya untuk makan, padahal kala itu jarak dili-atambua yang hanya 90 km itu harus ditempuh 3 jam karena jalan rusak.

Dubes kami kala itu selalu mendorong untuk nengok wilayah Indonesia terdekat bukan apa apa tujuannya supaya tidak stress tugas di dili yang dulu mal saja belum ada dan resto juga sangat terbatas yang menyajikan makan enak sesuai selera. Kala itu hanya ada nasi kuning di jual di dekat mesjid dan soto makasar yang menjadi andalam memenuhi selera kita.

Kala menengok pesantren saya sangat dekat dengan pengasuhnya yaitu Gus Kamali yang terus berjuang membangun pesantren. Pesantren awalnya hanya sebuah mushola di pinggir kali, namun dengan kegigihannya pesantren terus berkembang saat ini memiliki bangunan untuk sd dan smp serta mesjid. Gedung untuk rumah guru juga sudah di bangun.

Gus Kamali menyatakan bahwa mendapatkan dana bagi pesantrennya relatif mudah karena hanya dia satu satunya pesantren di Propinsi NTT, sementara di Jawa ratusan pesantren harus memperebutkan dana dari satu propinsi.

Santri di pesantren tidak banyak sekitar 50 orang dimana sebagian adalah anak yatim warga Timor Leste yang berada di pengungsian. Biaya anak santri semua menjadi tanggungan pesantren tersebut termasuk menyalurkannya ke sekolah lebih tinggi setelah mereka selesai.

Selain santri yang mondok ada pengajian rutin dimana masyarakat luar dapat ikut serta dan kegiatan ini terus semakin ramai jika memasuki hari jumat dan sabtu. Sayapun merasakan suasana tidak jauh dari kampung selama berada di pesantren. Kerap Gus kamali mengajak saya untuk ikut serta acara masyarakat seperti tahlil dan selametan dari rumah ke rumah.

Dalam kaitan kegiatan pesantren yang demikian itu saya selalu mendapat informasi terupdate terkait hubungan kedua negara terutama dari para satgas TNI penjaga perbatasan yang selalu sowan datang ke pesantren. Saya suka nimbrung larut dalam diskusi dan suka duka satgas dalam menjaga perbatasan.

Saat ngobrol malam sama teman teman tokoh masyarakat di pesantren ada salah seorang yang pamit pulang bilang kalau dia mendapat orderan nasi kotak untuk kunjungan Jokowi besoknya. Mendengar itu saya masih santai az masa sih ada kunjungan presiden dan harusnya tahu saya di perbatasan kok KBRI tidak menelpon saya…ah becanda kali ya gumam saya.

Paginya saya masih belum yakin, dan saya kepikiran untuk menengok bandara, langsung saya kesana dan dengan mobil diplomatik mudah saja bagi saya masuk ke bandara. Benar ternyata didalam ada persiapan kunjungan Jokowi sebentar lagi jam 10 pagi ini.

Nah info ini tentu benar adanya.. Lah kalau ada kunjungan Dubes haruslah di kasih tau. Kala itu jam menunjukkan pukul 8 dan segera saya telpon Dubes kami untuk siap siap meluncur ke batas. Mendengar itu dia blingsatan  dan segera meluncur ke batas dan apa jadinya kalau presiden ke batas dirinya tidak hadir.

Waktu ke batas hanya 2 jam, berarti Dubes harus memacu kendaraan dengan cepat sehingga sampai ke batas sebelum Presiden Jokowi hadir disana. Saya menyesali diri dan berkata kepada Dubes bahwa sebenarnya saya tau info itu dari semalam, cuma karena yang memberi info masyarakat biasa saya tidak begitu perduli.

Setelah dari bandara sayapun segera memacu kendaraan menuju batas untuk ikut persiapan penyambutan dengan aparat muspida dan kecamatan termasuk para kepala desa di batas. Petugas batas dari unsur satgas polisi, imigrasi karantina bea dan cukai juga sudah siap sedia. Yang saya kuatir Dubes RI belum datang.

Benar juga waktu bergerak dengan cepat dan dapat info Presiden sudah mendarat di bandara atambua. Dapat info melegakan kalau rombongan Presiden berhenti di bandara untuk menikmati nasi kotak. Wah bener pasti itu pesenan nasi kotak dari warga pesantren.

Lumayan tertahan 30 menit dan bila rombongan presiden meluncur ke batas dalam waktu 30 menit berarti masih ada waktu 1 jam dan segera saya cek Dubes kami dan katanya sudah setengah perjalanan menuju batas. Kuatir juga apa iya dalam waktu 1 jam beliau bisa tiba tepat waktu dan menjumpai Presiden di batas.

Jam 11 sesuai perkiraan, rombongan presiden tiba…itupun juga agak lambat katanya Presiden beberapa kali berhenti menyambangi beberapa rumah penduduk di batas untuk memberi sumbangan.

Melihat Dubes belum ada segera saya mewakili beliau untuk menyambut bersama aparat pemerintahan dan petugas perbatasan. Dalam kunjungan presiden Jokowi nyata sekali tidak ada sekat antara presiden dan rakyatnya namun hal ini membuat paspampres harus extra kuat mengatasi hal itu dan sesekali Presiden memberi sinyal agar di longgarkan sehingga rakyat dapat langsung bersalaman kepada beliau.

Satu persatu kantor batas di liat mulai dari satgas imigrasi karantina dan bea cukai…lah kok dubes belum juga keliahatan. Habis ini kunjungan adalah ke pintu batas jangan sampai deh Presiden sampai sana Dubes tidak hadir.

Benar juga setelah inspeksi bea cukai saat Presiden keluar menuju pintu batas, bersamaan dengan itu mobil Dubes terlihat melaju ke pintu batas….alhamdulilah pas betul. Dubes dengan tergopoh gopoh turun dan segera menyambut Presiden Jokowi di pintu batas. Presiden Jokowi berhenti sejenak dan berbicara dengan Dubes terkait kondisi Timor Leste saat ini.  Presiden juga tidak melihat kalau dubes kami telat…sekali lagi alhamdulilah.

Dubes mengucapkan terima kasih atas info yang saya berikan dan katanya semua yang di KBRI tidak mengetahui akan ada kunjungan Presiden ke Batas. Anehnya saya dapat info malah dari pesantren.

Tindak lanjut dari kunjungan ini adalah Presiden kecewa dengan kondisi bangunan di Mota ain yang menjadi batas RI yang bentuknya menyerupai pasar dan meminta agar bangunan di perbaiiki paling tidak seperti bangunan megah yang sudah di miliki Timor Leste di seberangnya.

Alhamdulilah mendengar saya sendiri terus terang malu dengan kondisi gedung di batas wilayah Indonesia itu, tidak mencerminkan kalau Indonesia adalah sebagai negara besar.

Wallahu a’lam

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.