Cerita Tunisia 6: Kisah persaudaraan Yahudi dan Arab Tunisia

ghriba

Cerita ini adalah pengamatan saya selama bertugas di Tunisia sejak tahun 2003-2007 silam.

Melihat Yahudi dalam kacamata orang Indonesia seringkali samar, sebagai orang yang beragama Islam apapun yang datang dari Yahudi adalah musuh yang harus di perangi. Namun setelah saya melihat keadaan Yahudi di beberapa negara terutama di Tunisia perlu pemahaman lebih dalam mengenai Yahudi.

Saya akhirnya menyimpulkan perlu melihat Yahudi secara proporsional berdasarkan 3 kelompok yakni Yahudi sebagai bangsa atau keturunan, Yahudi sebagai agama dan yang terakhir yahudi sebagai gerakan yang tiada lain Zionis.

Dalam kaitan konflik Arab Israel kelompok yahudi sebagai gerakan Zionis itulah yang harus di perangi karena upaya untuk menghilangkan Palestina.

Sementara Yahudi dalam kelompok lainnya dapat disikapi dengan lebih bijaksana. Yahudi sebagai bangsa atau keturunan sudah muncul lebih dahulu dibanding bangsa Arab dengan agama yang dibawa oleh Nabi Musa As. Yahudi sebagai bangsa tidak otomatis bahwa akan beragama yahudi, karena bangsa Yahudi saat inipun ada yang beragama lain seperti Islam dan kristen.

Beruntung saya pernah ditempatkan di Tunisia dan melihat bagaimana Yahudi berkiprah di negara cantik di kawasan mediterania Afrika utara ini.

Yahudi di Tunisia adalah kelompok Yahudi yang paling tua mendiami Afrika utara dengan waktu 3000 sampai 2500 tahun yang lalu atau sekitar 500 sebelum masehi. Komunitas Yahudi berada di Selatan Tunisia di wilayah Gabes dengan pusatnya berada di pulau tersendiri yakni Djerba.

Dalam kurun waktu ratusan tahun itu masyarakat Tunisia dan Yahudi sudah menjalin hubungan yang harmonis satu sama lain. Di Djerba inilah ada Synagog tua bernama Ghriba. Yahudi di Djerba memiliki pekerjaan bertani untuk minyak zaitun dan kurma, nelayan dan mengelola resort hotel dan restaurant. Djerba adalah resort terbaik yang menarik wisatawan dimana resort ternama ada disini termasuk Trump.

Pada masa penjajahan Perancis sejak 1881, Yahudi menempati kelas masyarakat terbaik dan lebih tinggi dari warga Arab oleh pemerintah jajahan Perancis. Keadaan ini menimbulkan friksi dan hubungan yang tidak baik dalam hubungan yahudi dan warga Arab Tunisia karena perbedaan perlakuan ini.

Masuk pada masa Perang dunia kedua, Tunisia masuk jajahan Nazi Jerman dan masa ini adalah masa yang sangat sulit bagi yahudi karena adanya anti semit kepada warga yahudi dan banyak warga Yahudi di pekerjakan secara paksa untuk mendukung kepentingan Nazi di Afrika Utara. Warga Yahudi sebelum perang jumlahnya cukup signifikan saat itu mencapai 80 ribuan karena kondisi tekanan itu banyak yang .melarikan diri dari Tunisia yang menyusutkan jumlah yahudi di negara ini secara signifikan.

Masa terbaik Yahudi di Tunisia adalah pada masa kemerdekaan di mana presiden pertama Tunisia Habib Borguiba mengakui bahwa Yahudi adalah sebagai bagian dari masyarakat Tunisia. Namun peristiwa arab Israel tahun 1967 telah menyulut kemarahan warga Arab Tunisia kepada Yahudi. Untuk amannya, kembali banyak warga Yahudi ke keluar dari Tunisia. Jumlah Yahudi merosot tajam sehingga hanya sekitar 5000 saja yang tinggal.

Pada masa presiden Ben Ali secara politik Yahudi di beri porsi keterwakilan di parlemen dan Yahudi dijadikan sebagai penasehat ekonomi dimana pos pos penting untuk urusan ekonomi diambil dari warga Arab Tunisia berketurunan yahudi. Nama nama menteri keuangan bank sentral perdagangan selalu diambil dari warga selatan Tunisia dimana adala campuran darah antara Arab dan Yahudi. Presiden Ben Ali yakin bahwa warga selatan Tunisia rata rata piawai soal ekonomi dan keuangan karena adanya darah Yahudi itu.

Kala negara lain alergi dengan Yahudi, Presiden Ben Ali terang terangan mengundang Israel untuk hadir dalam World Summit on Information society tahun 2005 dimana Tunisia sebagai tuan rumah dimana waktu itu hadir menlu Israel Silvan shalom yang usut punya usut adalah orang yahudi keturunan Djerba.

Mungkin itu juga yang menjadikan kenapa Israel untuk beberapa waktu lamanya mengijinkan Tunisia sebagai markas PLO sejak tahun 1982 sebagai penyalur kepentingannya dalam urusan dengan palestina. Selama presiden Ben Ali Tunisia telah menjadi markas PLO dimana Yasser Arafat dan keluarganya banyak menghabiskan waktunya di Tunisia. Sejak Tunisia menjadi markas PLO beberapa serangan Israel juga dihadapi Tunisia. Markas PLO kemudian kembali pindah ke Amman beberapa tahun kemudian.

Sementara itu kehidupan Yahudi di Tunisia terus membaik walau jumlahnya sudah tidak begitu banyak lagi. Festival Ghriba yakni acara tahunan warga Yahudi masih tetap diperingati melibatkan ratusan ribu warga Tunisia dan Yahudi larut ikut memeriahkannya sebagai bentuk adanya persaudaraan antara warga Tunisia dan Yahudi yang sudah terjalin ratusan tahun di Djerba. Yahudi banyak yang datang pada festival tersebut dengan tujuan berziarah ke synagog tertua di Afrika utara itu.

Demikian ceritanya semoga manfaat

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: