Sedekah tersembunyi: Menempati rumah yang tidak pernah diketahui siapa pemiliknya

sedekah rumah

Saya selalu punya prinsip dalam hidup bila kita baik maka inshaallah semua akan di mudahkankan dan akan dipenuhi dengan keberuntungan. Bila itu sebaliknya maka saatnya berintrospeksi pasti ada yang salah dengan diri kita.

Prinsip ini selalu menjadi isyarat apakah perbuatan baik yang kita jalani ini mendapat ridhoNya atau malah sebaliknya. Baiklah saya akan cerita soal pengalaman hidup yang benar benar saya alami kala itu.

Saya tidak pernah bermimpi untuk dapat sekolah di Universitas ternama di Jogja dengan jurusan yang favorit. Orang tua saya mendukung walau dengan itu saya harus berpisah dengan mereka yang berada di Jakarta.

Saya kemudian mengambil koskosan dekat kampus dan dengan itu saya cukup berjalan kaki ke kampus. Hari hari mudah saya jalani untuk menyerap semua pelajaran, namun sekali itu yang susah adalah pergaulan.

Sebagai anak Jakarta saya masih sulit tidak melepaskan kebiasaan kumpul untuk senang senang dan kebetulan orang tua selalu memberikan uang berlebih, jadi semua keinginan untuk senang selalu saya dapat. Namun ya itu tadi ada terasa kehampaan kala terus bersenang senang itu dan semakin jauh dari ketenangan.

Saya akhirnya berjumpa dengan teman teman masjid di lingkungan  dan hati saya tertaut sangat dengan masjid sesudahnya…alhamdulilah. Saya dulu yg suka berolok olok dengan orang mesjid jadi berbalik menyukai untuk berpeci sarungan dan kemana mana pake sandal jepit. Makan bersama seadanya dengan takmir mesjid dan walau sederhana namun kebahagiaan selalu diperoleh. Di mesjid saya dapat sekalian belajar agama.

Saya merasakan dengan semakin aktif di Masjid, malah memudahkan saya untuk menyelesaikan sekolah. Melalui takmir saya selalu didekatkan dengan dosen dosen yang mempunyai misi sama dalam syiar Islam termasuk dosen pembimbing saya. Saya ingat skripsi juga sangat cepat hanya 1,5 bulan karena melanjutkan proposal dari dosen pembimbing saya.

Satu hal yang berjasa dan selalu saya ingat adalah saya dan teman teman diamanati sebuah rumah elite cukup besar ada 3 kamar didalamnya di bilangan jalan kaliurang  km8 untuk kami jaga, tidak perlu bayar hanya menempati sekaligus merawatnya. Lumayan biaya kos bisa dialihkan untuk keperluan yang lain. Kami bahu membahu untuk merawat rumah dan membayarkan aneka tagihan seperti air listrik dan lingkungan sehingga rumah selalu tampak asri.

Sat hal yang aneh bagi saya yang memberi amanat tidak pernah memberitahu bahwa ini rumah siapa. Sampai saya tamatpun pemilik rumah sebenarnya tidak pernah saya ketahui. Sampai yang memberi amanatpun meninggal dunia, kamipun tidak tahu kami menempati rumah siapa yang begitu baik itu.

Kami menempati rumah itu cukup lama hingga saya wisuda, orang tuapun juga menjenguk saya di rumah itu. 2 teman saya selanjutnya merawat rumah tersebut. Kala itu saya ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada pemilik rumah, namun sekali lagi itu dilarang dan katanya biarlah itu menjadi amal yang ikhlas bagi sang pemilik rumah.

Mendengar itu sayapun tidak lagi mempersoalkan siapa pemilik rumah itu, hingga teman saya yang bareng dengan saya mendahului beberapa tahun belakangan. Usut punya usut saya hanya punya sepenggal informasi bahwa pemilik rumah itu adalah seorang pejabat dari Pertamina.

Sayapun terus mendoakan kepada orang tersebut agar selalu mendapatkan berkah dan perlindungan Allah selalu melalui amal yang dilakukannya dengan sedekah rumah untuki di tempati kami yang sedang menuntut ilmu.

Wallahu a’lam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.