Hawa nafsu yang tersembunyi di Ibadah Sunah

ziarah wali

Ibnu Athailah dalam kitabnya Al hikam menyatakan bahwa terlalu mengutamakan ibadah Sunnah adalah bentuk hawa nafsu

Salah satu tanda seseorang menghamba hawa nafsu adalah kesegeraan dalam memenuhi panggilan kebaikan tambahan dan kelambatan dalam memenuhi panggilan kewajiban.

Karena itu berhati hatilah karena itu mengapa gerak hati atau niat seseorang sangatlah penting dalam ibadah. Saat ini ibadah sunah atau tambahan menjadi hal yang sangat menarik untuk diutamakan ketimbang ibadah wajib. Pemicunya adalah ibadah sunah menawarkan ganjaran besar seperti puasa muharam dapat menghapuskan dosa setahun atau terkait langsung dengan kebutuhan nafsu seseorang misalnya dengan shalat dhuha dapat melancarkan rezeki misalnya.

Banyak lagi contohnya seperti kewajiban haji hanyalah sekali seumur hidup namun kebanggan diri untuk berkali kali haji dan umrah kalau ditelusuri lebih jauh banyak gerak riya daripada niat karena Allah.

Begitu juga orang yang gemar melakukan ziarah ke makam makam wali atau aulia, bila tidak hati hati akan lebih banyak meminta berkah saja daripada untuk mengetahui kewajiban atas dengan menguatkan fondasi keimanan terlebih dahulu dengan niat hanya karena Allah. Niat berziarah juga dapat dilakukan untuk  niat mendekatkan diri kepada para aulia untuk dapat bertawasul kepada mereka.

Dalam salah satu Haditsnya, Rasulullah Saw juga pernah bersabda, ” Gunakan washilah dengan Aku dan para ahli Bait-ku pada Allah SWT. Karena sesungguhnya tidak ditolak orang yang bertawassul pada kami(HR. Ibnu Majah).

Niat yang lainnya juga  bukan pula kepada makamnya adalah belajar atau meneladani orang orang baik tersebut untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata.

Sebenarnya itu sah sah saja terkait ibadah yang wajib sudah tuntas dilaksanakan dan ibadah sunah menjadi penyempurna bagi ibada wajib. Dalam kaitan ini membaca gerak hati adalah penting seberapa niat kita dalam melaksanakan ibadah sunah tersebut.

Ada hal menarik dalam hubungan sunah dan wajib dalam hubungan muamalah. Saat seseorang bertobat tidak serta merta istuighfar ratusan kali dan melakukan hal sunah lainnya agar Allah mengampuninya. Satu kewajiban harus dipenuhi agar seseorang diampuni yakni berhubungan langsung dengan obyek dimana dosa dilakukan.

Seperti orang yang berhutang, maka bersegeralah untuk melunasi dan itulah kewajibannya. Kala kita berbuat salah atau merugikan seseorang maka bersegeralah meminta maaf dan bila kita mengambil hak orang lain atau merampasnya maka sebaiknya adalah menyerahkan dulu. Dengan gambaran demikian menyegerakan yang wajib adalah hal yang mutlak untuk dapat diampuni baru lakukan ibadah tambahan.

Wallahu ‘alam

 

2 Comments Add yours

  1. masHP says:

    Allah membaca gerak-gerik hati. Karena itu betapa pentingnya belajar tasawuf agar tidak tergelincir oleh hawa nafsu yang bertopeng dg kebaikan bahkan ketaatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.