Inilah 4 tahap menuju nikmatnya membaca Al Quran

alquran5

Ada 4 tahap menuju nikmatnya membaca Al Quran yang diperoleh tidak secara instan melainkan berproses yakni melalui proses dipaksa, menjadi kebiasaan lalu menjadi kebutuhan dan terkahir berbuah kenikmatan.

Dipaksa

Membaca Al Quran harus dipaksa atau paling tidak ada yang memaksa. Baru sadar bila orang tua dahulu memaksa anak anak untuk belajar ngaji lalu dihadapkan kepada seorang guru yang keras agar anak anak mau mengaji. Keikhlasan seorang guru ngaji pada masa lalu sangatlah ikhlas rela dibayar hanya dengan iuran minyak tanah untuk penerangan kala itu. wajarlah akhirnya ilmunya sangat melekat ke diri anak anak.

Perlunya penekanan anak anak untuk belajar Al Quran terkait dominasi rohaninya sangat kuat di banding keinginan jasmaninya. saat anak anak inilah proses belajar Al Quran yang terlihat dipaksa sejatinya bagi anak anak tidaklah demikian mereka dengan riang belajar Al Qura-an.

Paksaan dalam budaya pesantren menjadi mudah dengan adanya kerelaan seorang santri untuk selalu patuh kepada kyai. Kepatuhan ini merupakan dapat dilihat sebagai tujuan antara untuk menuju kepatuhan yang hakiki kepada sang Khaliq. Latihan seorang santri kepada kyainya dengan mengikuti perintahnya yang sesuai dengan ajaran Islam menjadi latihan baginya untuk mematuhi pula ajaran Tuhannya. Banyak hal dikisahkan oleh ulama besar yang muncul dari gemblengan dan latihan dari ulama atau guru pendahulunya.

Kebiasaan

Menjadi orang yang terbiasa untuk selalu membaca Al Quran tidaklah terjadi dengan sendirinya, butuh proses untuk mengikhtiarkannya. Dengan kata lain untuk menjadikan kebiasaan memerlukan latihan (Riyadhah). Secara perlahan terus diupayakan untuk mendapat ilmu Al Quran jadi tidak sekedar membaca namun memahami artinya.

Riyadhah yang diwujudkan melalui cara yang disiplin untuk membaca Al Quran misalnya setiap selesai shalat fardu harus dibiasakan. Perlahan lahan bila ini dilakukan berulang ulang maka otomatis menjadi kebiasaan.

Dalam tahap kebiasaan ini, seseorang yang tidak membaca Al Quran akan diliputi rasa bersalah, paling tidak berasa aneh dan kalau ada yang kurang bila  tidak membacanya.

Kebutuhan

Makna Al Quran sebagai kebutuhan adalah sadarnya diri kita bahwa Al Quran adalah pedoman hidup yang harus dipegang setiap saat agar hidup selamat. Dengan kata lain jika Al-qur’an sudah menjadi suatu kebutuhan bagi kita. Seolah kita akan merasa bahwa Al-qur’an pedoman hidup kita. Pedoman yang selalu mengantarkan kita kepada kebaikan dan mencegah kepada keburukan, solusi bagi setiap masalah masalah yang dihadapi. Keutamaan mempelajari Al-qur’an juga sangatlah tidak akan merasa dirugikan, baik itu dirugikan oleh energi maupun waktu. Sesuai dengan firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (Q.S. Fathir 35: 29-30).

Dalam tahap ini sudah ada benih benih cinta seseorang akan Al Quran yang di tandai keinginan untuk selalu membaca dan meresapi artinya.

Kenikmatan

Inilah proses yang paling tinggi dimana membaca Al Quran sebagai proses yang tertinggi. Bagi orang membacanya terasa sejuk dan nikmat di hatinya dan mantap menjadikan Al Quran sebagai teman. Sedikit sekali orang dapat mencapainya termasuk saya pribadi namun hal ini tentulah dapat diraih dan sudah tentu dengan rahmat Allah yang dilimpahkan kepada hambaNya.

Beberapa kenikmatan dari membaca Al Quran kurang lebih adalah

  1. Besarnya aliran pahala kala membacanya :

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf.”

  1. Jaminan akan ketentraman hidup

Allāh berfirman:

“Maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Al-Baqarah:38)

  1. Hidup terjamin

Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allāh mempunyai banyak keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya; “Ya Rasulullah, siapakah mereka itu?” beliau menjawab: “Mereka adalah ahlul Qur`an, mereka adalah keluarga Allāh dan orang khusus Allāh.” (Ibnu Majah:211)

Dengan begitu maka tidak mungkin Allāh menelantarkan kehidupan orang-orang khusus-Nya di dunia ataupun di akhirat.

  1. Derajat yang tinggi di syurga

Nabi Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dikatakan kepada orang yang membaca Al Qur’an: “Bacalah, dan naiklah, serta bacalah dengan tartil (jangan terburu-buru), sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia, sesungguhnya tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (Abu Daud: 1252)

Wallahu a’lam

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.