timor travel

Awalnya saya denger kala itu banyak keluhan adanya pungutan di batas dari warga indonesia yg melintas masuk ke TimorLeste. Cuma saya tdk melihat bukti nyata ada tidaknya tapi pengen banget rasanya jadi warga biasa melihat praktek ini.

Kebetulan saya jadwal ke Atambua…sekali sekali ah gak bawa mobil diplomatik tapi ikut travel. Buat saya yg pegawai KBRI dgn mobil diplomatik jarang mengalami hambatan melintas mulus di batas baik dari sisi Indonesia maupun Timor-Leste hanya chopping paspor tanpa diperiksa ini itu.

Tapi bila melihat warga biasa luar biasa hrs antri isi ini¬† itu ditanya tanya pokoknya lumayan repotlah. Kala berangkat saya ikut rombongan KBRI yg juga ke atambua…cuma pas pulangnya sy gak ikut mereka…sy mau cobain naik travel…” temen saya berusaha membujuk agar saya batalin niat itu. ” ah yg bener gerah tau dan ditravel macam macam baunya pasti nggak tahan” tapi namanya sdh tekad…” bodo amat” itu jawaban saya kala itu.

Akhirnya bener sy dpat tempat duduk depan di travel. Kenalan cepat terjadi sesama penumpang travel kala itu ada 3 suster wni dan 2 wni yg hendak ke Dili dan 3 lainnya dari Timor leste yg baru datang dari kupang…kapasitas travel mamang hanya 9.

Travel berjalan dari pool di hotel Timor mantap…ambil jalur cepat lewat dalam tdk lewat pelabuha Atapupu. Jalur ini lbh cepat dan 30 menit sdh tiba di batas. Pos pertama yg harus didatangi adalah pos polisi. Mereka sdh tau lewat pos ini satu satu hrs ke dlm utk lapor ke petugas dgn menperlihatkan paspornya….

selanjutnya ke pintu satgas juga demikian kali ini hanya yg wni baru datang yg harus ditanya di dalam dan baru di kemudian imigrasi. Relevansi memeriksa paspor ini yg aneh buat saya krn yg berhak lihat diokumen negara itu ya imigrasi. Tp oklah saya dalam penyamaran…

saya juga ikutan cuma di penjaga saya tunjukan paspor diplomatik begitu juga ke satgas. Melihat ada penumpang yg pake paspor diplomatik rupanya segan pula mereka dan teman teman di travel jadi relatif¬† lancar urusannya…..waduh gagal penyamaran dan saya tanya tidak ada satupun yg dikenakan pungutan jadinya.

Tapi saya penasaran tanya dan mempelajari sistem di batas dgn rangkaian itu dan melihat itu agak repot bila tdk ada pungutan.

Masuk imigrasi kita dikerubungi jasa penulis formulir imigrasi mereka sih suka rela satu form minta 10 rb dan jasa porter. Karena travel tdk bisa melintas kita harus turun untuk berganti travel di batas yg lain. Jd yg bawa barang pasti butuh porter tarifnya bisa 50 rb.

Masuk di batas timor leste hal serupa terjadi yaitu jasa pengisi formulir disini mrk minta 1 dlr ya kurs waktu itu mirip miriplah 9000 rupiah perdolar. Dan hal hal lain tidak ada dan dibagian Timor-Leste ini lebih cepat urusannya

Kembali ke teman teman travel yg satu perjalanan ada yg berkata iya pantas saja ada saya mereka segan katanya. Teman teman mereka katanya hrs memasukkan uang di paspor terutama yg masih baru masuk ke Timor-Leste kuatir klo tdk bs lolos nyebrang.

Benar jga saya perhatikan jalur pemeriksaan yg panjang rawan penyelewengan….utk pos polisi akan lebih bijak bila mendekati travel cukup.menanyakan apakah semua berdokumen tdk perlu di panggil satu satu begitu ….satgas jg cukup mencatat kepastian mereka berdokumen dan baru imigrasilah yg berhak melihat isi dalam paspor dokumen negara.

logikanya saat di panggil satu satu tentu ada kekuatiran dan bisik bisik orang di batas agar menyelipkan saja uang agar lancar jaya dari pemeriksaan petugas. Tapi sekali lagi ini hanya oknum tidak semuanya demikian krn saya melihat dedikasi petugas batas terutama polisi dan satgas memang paling berat tergantung kondisi keamanan di batas tersebut

Wallahu a’lam