Kisah Haji 12 : Keramat pembuka pintu rezeki itu adalah ibu

Rhoma 4

letterK_carta_12665 KKisah ini diambil dalam penggalan kisah dalam buku “Mencari Tuhan yang hilang 2 oleh Ustadz Yusuf Mansur.

Anang, kalo dilihat dari posisi karirnya hanya sebagai pegawai biasa. Bolehlah disebut sebagai pegawai non karir. Tapi penghasilannya melebihi gaji manajernya.

Selidik punya selidik, Anang ini adalah orang orang yang disebut di atas, orang orang yang ‘memiliki keberuntungan”. Rezekinya selalu ada saja, entah dari mana. Seolah alam membuka segala pintu rezeki buatnya. Mungkin inilah yang dikatakan Allah,

“Jikalau sekiranya penduduk negeri negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (QS Al A’raf : 96)

Kehidupan Anang berkah. Anang sering bilang, ‘Gaji saya boleh dibilang enggak pernah kepakai, sebab saya banyak banget dapat penghasilan lain dari luar. Halal loh ya, bukan dari jalan yang tidak tidak.

Anang punya keramat. Keramatnya inilah yang dimata kawan kawannya menjadi pembuka rezeki buat dia.

Keramat bagi Anang adalah ibunya. Dia punya ibu yang ia istimewakan. Betul betul dia istimewakan. Berhubung Anang belum menikah, uang gaji semuanya ia berikan kepada ibunya. Seperti bocah yang masih kecil, kalau ia mau jalan baru ia minta dari ibunya atau ibunya yang memberi uang ke dia. Anang juga meminta ibunya umrah, haji dan lain sebagainya, dari hasil rezeki dia berupa gaji dan sampingan-sampingan yang mendatangkan rezeki.

Perbuatan baik Anang sama ibunya ini sekali lagi, yang mendatangkan kemurahan Allah buat dirinya. Dan kawan kawannya melihat, memang Anang rezekinya selalu bagus.

Rezeki selalu beruntun menghampirinya mulai ikutan dalam membantu penjualan mobil di showroom temannya sampai bantuan dia dalam penjualan asset kantor berupa 4 ruko di wilayah Jakarta Barat yang semua terealisir berkat bantuannya.

Lantaran limpahan rezeki itu, kepada ibunya, Anang bukan saja pernah mengumrahkan saja, tetapi Anang juga pernah menghajikan ibunya.

Dulu ibunya menolak, kata ibunya, ‘Ibukan sudah berangkat umrah. Sedangkan kamu Nang, yang belum sama sekali melihat ka’bah. Sudah kali ini kamu saja yang berhaji, Ibu nanti saja.

Anang menolak dengan halus. Dia minta di beri kesempatan untuk berbakti kepada ibunya.

Akhirnya ibunya mau berangkat. Dulu belum seribet sekarang persyaratan haji. Kalau sekarang, perempuan gak boleh berangkat haji tanpa mahram langsung.

Di kemudian hari, Anang akhirnya tetap berangkat. Berangkat bukan pakai biaya sendiri, tetapi berangkat karena diongkosi oleh orang.

Gimana bisa?

Di kantornya, Anang juga dikenal sebagai pemuda yang memiliki penguasaan agama yang lebih di bandingkan kawan kawan kantornya.

Suatu hari, ada salah satu pimpinannya yang akan membadalkan haji orang tuanya, maka dipilihlah Anang.

Subhanallah, Allahlah yang memilihkan siapa diantara hamba hambaNya yang Allah undang ke Baitullah Nya. Dan Anang termasuk yang dipilih Nya. Anang menanggung biaya haji ibunya, dan Allah yang menanggung biaya haji dirinya.

Allah tidak pernah menyia nyiakan kebaikan seseorang, sebagaimana Allah tidak akan pernah membiarkan keburukan seseorang berlalu begitu saja tanpa balasan dari Nya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.