Teladan Nabi Saw 18 : janganlah mencela makanan

Ilustrasi-makanan-yang-biasa-dikonsumsi-masyarakat-Indonesia-1

Makanan itu sejatinya kebutuhan yang menopang kelangsungan hidup manusia. Bergesernya kebutuhan manusia saat ini tidak lagi pada kebutuhan pokok seperti pangan itu telah menyebabkan kebutuhan pangan tidak menjadi hal yang penting lagi karena  manusia mulai mengejar kebutuhan kebutuhan lainnya.

Makanan saat ini menjadi mudah didapat dan fungsinya tidak lagi sebagai kebutuhan agar perut kenyang, namun lebih lagi makanan harus tampil dari segi bentuk yang menarik, harus berisi bahan bahan yang bergizi dan bermanfaat bagi tubuh dan cita rasanya yang menggugah selera.

Perubahan ini tuntutan terhadap makanan menjadi berat, dalam hal ini makanan sering mendapat celaan terkait tampilan, kandungan gizi dan rasanya itu. Belum lagi celaan bahwa makanan itu banyak mengandung lemak sebagai penyebab gemuk. Lalu kelewat manis penyebab diabetes atau asin penyebab darah tinggi dan sebutan lainnya yang menjadikan makanan sebagai kambing hitam munculnya segala penyakit di tubuh. Dalam hal ini manusia menjadi sangat kuatir terhadap asupan makanan ke tubuhnya.

Orang orang kaya punya kemampuan untuk memilih hanya makanan sehat, namun seringkali penyakit tetap mengintai sebaliknya seorang tuna wisma yang mendapat makan seadanya dan bahkan memungut dari makanan sisa atau sampah, namun tetap sehat. Jadi dalam hal ini manusia harus sadar perkara makanan itu nantinya bermanfaat atau tidaknya di tubuh juga terkait penghargaan kita sebagai manusia untuk selalu bersyukur dan menerima apa apa yang sudah diberikan Allah kepada kita.

Saya pernah ikut pelatihan motivasi, kala itu menampilkan studi penelitian terhadap makanan yang diletakkan dalam dua toples terpisah. Masing-masing makanan di dua toples tersebut diberi perlakuan yang berbeda. Makanan ditoples pertama di luarnya ditempeli tulisan kata kata dan pujian  yang baik sementara toples kedua diberi kata-kata kotor, cacian dan kata-kata tidak bermanfaat lainnya. Apa yang terjadi? toples pertama yang selalu diberi perlakuan dengan kata-kata yang baik ternyata makanannya jauh lebih awet daripada toples kedua yang selalu dicaci maki dan diberi kata-kata kotor, makanan di toples kedua jauh lebih cepat membusuk.

Begitulah nasib makanan saat ini di butuhkan namun sering pula di cela, lantas bagaimana pandangan islam terkait makanan ini?

Bagi seorang muslim pantang seseorang itu mencela makanan sebagaimana ditunjukkan melalui keteladanan Nabi Saw dalam hal ini, beliau tidak pernah mengeluarkan celaan terhadap makanan. Dari Abu Hurairah Ra ia berkata:

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan. Apabila beliau menyukainya, beliau memakannya, dan apabila tidak menyenanginya, maka meninggalkan makanan tersebut”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi Saw tidak menyukai atau meninggalkan makanan jika makanan itu memang haram dan berasal dari sumber yang diharamkan datangnya.

Sikap kita terhadap makanan berkaitan pula dengan penghargaan terhadap yang membuatnya. Kala mencela makanan secara tidak langsung kita menyakiti orang yang membuatnya yang sudah bersusah payah menyajikan itu untuk kita.

Dalam hal ini tetaplah melontarkan pujian terhadap makanan.

Terdapat suatu riwayat ; Beliau bertanya kepada keluarganya tentang lauk yang tersedia. Keluarga beliau menjawab:

“Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali cuka,” maka beliau meminta untuk disediakan dan mulai menyantapnya. Lantas berkata:

“Sebaik-baik lauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk adalah cuka”. [HR Muslim].

Dan salah satu tuntunan yang paling penting adalah membaca basmalah sebelum menyantap makanan agar makanan itu menjadi berkah bagi tubuh dan kesehatan kita.

Dari Aisyah ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: ” Apabila salah seorang diantara kalian makan, hendaklah ia menyebutkan nama Allah Ta’ala. Apabila lupa menyebut nama-Nya sewaktu memulai makan, hendaklah ia membaca : ” Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu” (Dengan menyebut nama Allah pada permulaan dan penghabisan makan)”.

Begitulah sekelumit kisah Rasulullah Saw berkaitan dengan makanan, yang menjadi kebutuhan penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Beliau tidak mencela dan selalu bersikap qanâ’ah (menerima) dengan apa yang tersedia.

Ingatlah makanan itu sebagai rezeki Allah, hargai dan manfaatkan dengan baik, jangan mencelanya dan melontarkan kata yang tidak baik dan membuang buang makanan sehingga mubazir terhadap makanan. Dan bayangkan saat ini masih banyak orang orang yang masih berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi karena kemiskinan dan kefakiran mereka.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.