menangis1_20160623_152936

Kesedihan adalah prilaku seseorang yang wujudnya bisa berupa diam, masa bodoh, terus melamun, hampa tiada semangat, kecewa, sakit hati, galau tiada berkesudahan menangis meratap hingga depresi dan yang paling ekstrim ingin mengakhiri hidup.

Dalam buku Filosof agung Al Kindi dalam buku Al Hillah li daf’i al -Ahzan ( Teori menepis kesedihan menyatakan kesedihan terjadi karena 2 hal saja yaitu pertama adalah hilangnya yang di cinta dan kedua adalah luputnya yang didamba yang dalam bahasa Arabnya Huznu huwa Faqd al-mahbub wa faut. Al Kindi juga menyebutnya kesedihan sebagai penyakit jiwa karena 2 hal tersebut.

Dalam memahami kesedihan tersebut al Kindi memberikan pertanyaan logis untuk mencari akar kesedihan itu dan menemukan solusinya yaitu Kenapa kamu harus bersedih? dan Atas dasar apa kamu bersedih ?

Baiklah kita uraikan dulu mengenai sebab kesedihan tersebut:

1.Sebab dan solusi kala Kehilangan

Kehilangan adalah hal yang paling umum terjadi mengapa seseorang itu bersedih. Dalam post terdahulu saya sdh menguraikan mengenai arti kehilangan dan bagimana mengatasinya. (https://perkarahati.wordpress.com/2014/02/11/arti-kehilangan-dan-cara-mengatasinya/)

Jadi yang harus dilakukan kala kehilangan adalah berucap Innalillahi wa Inna Ilaihi rojiun dengan memahami maknanya. Bahwa segala sesuatu yang hilang itu adalah akan kembali kepada pemilikNya. Apapun didunia ini adalah bersifat fana akan hilang, bagaimanapun kecintaan kita terhadap hal itu. Cinta kita terhadap orang tua, suami atau istri, anak anak kerabat sanak saudara semua akan meninggalkan atau ditinggalkan oleh kita.

Nabi Saw bersabda bahwa cintailah sesuatu itu sesukamu, pasti suatu saat kau tinggalkan. Hal disampaikan kala malaikat Jibril memberikan pelajaran kepada Nabi Muhammad Saw  dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim :

“Hiduplah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah sesuatu sesukamu maka sesungguhnya kamu akan berpisah. Berbuatlah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan bertemu dengannya.“( H.R. Hakim)

.

Begitu juga cinta kita kepada harta, jabatan dan apapun semua adalah titipan yang semuanya pasti akan ditinggalkan. Orang juga berlebihan kala kehilangan sesuatu, padahal hal lain yang tidak hilang jauh lebih banyak daripada yang hilang. Seperti rasa syukur nabi Daud yang sakit 18 tahun menurutnya tidak seberapa daripada nikmat sisa umur panjang 80 tahun yang Allah berikan kepadanya.

Alihkanlah cinta yang tulus hanya milik Allah, rindu yang tulus hanya milik Allah, kasih yang tulus hanya milik Allah dan kita semua adalah milik Allah. Cintailah semua karena Allah

Berangkat dari pemahaman itu kenapa pula seseorang itu harus bersedih, dan atas dasar apa kamu bersedih dapat terjawab.

Bagimana solusinya:

  • Cintai segala sesuatunya secara bersahaja jangan berlebihan, jadi kala kehilangan juga tidak terlalu merana.
  • Kesedihan atas kehilangan adalah suatu yang wajar, namun jangan sampai kesedihan juga berlarut larut, karena kehidupan harus terus jalan.
  • Yakinlah ada makna di balik kehilangan untuk menjadikan kita tambah iman dan menjadi pribadi yang baik. Tidak dikatakan orang itu beriman itu kalau tidak di uji. Maka kehilangan atau musibah itulah sebagai ujian.
  • Prasangka baiklah kepada Allah karena dengan adanya kehilangan atau musibah biasanya seseorang itu malah akan menjadikan pribadi yang dekat kepada Allah dan
  • Yakin juga bahwa kehilangan adalah cara Allah untuk menggantikannya dengan dengan yang lebih baik.

2.Sebab luput dari yang didamba

Wajar sekali bila orang hidup itu selalu dipenuhi akan keinginan. ingin kaya, ingin terkenal ingin segala kebutuhannya terpenuhi ingin bahagia dsbnya. Namun demikian diri kita perlu mengukur keinginan dengan kemampuan diri. Apalagi sekarang untuk mendapatkan keinginan dibuat mudah dengan iming iming dapat kredit, godaan online shopping undian dsbnya.

Bila tidak mampu mendapatkan semua keinginan lebih baik memenuhi apa apa yang dibutuhkan saja. Keinginan yang berlebihan apalagi dipacu dengan hawa nafsu malah akan memenjarakan diri kita sendiri dan akan merugikan orang lain bila cara yang digunakan dengan cara merebutnya.

Semakin banyak keinginan dan bila tidak tercapai akan besar pula kesedihannya. begitu juga bila besar keinginan yang tidak dilandasi kemampuan akan menjadi angan angan yang dalam Islam sebaiknya dihindari karena besar mudharatnya.

Nabi Sabw bersabda: “Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa atas Anda ialah dua hal, yaitu panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Sesungguhnya panjang angan-angan itu akan melupakan akhirat dan mengikuti hawa nafsu itu akan menghalangi dari kebenaran.”

Oleh karena itu bagaimana agar tidak mudah bersedih dalam Islam, solusinya tidak lain:

  • adalah melatih diri menjadi Qonaah, menerima apa adanya obyektif dengan kemampuan dan selalu bersyukur. Hadapilah sifat tamak serakah dan cinta berlebihan akan harta dengan sifat ini.
  • Utamakan kebutuhan dari keinginan.
  • Boleh berkeinginan namun harus realistis dan selalu ingat bahwa semua ada rencana Allah, dan manusia hanya berusaha Tuhan yang menentukan tercapainya keinginan itu.

Wallahu a’lam