Belajar dari lakon Semar dalam pewayangan

 

1e9d9240-971a-4c32-8cfd-f72855a9dd2b

Punakawan yang terdiri dari Semar bagong petruk dan gareng selalu muncul menghibur dalam babak  wayang setelah goro goro. Solusi masalah malah ditemukan dalam suasana santai dan diselingi canda sehingga pihak pihak yang bertikai tidak merasakan di gurui terutama melalui lakon  semar yang bijak.

Karenanya kehadiran punakawan selalu ditunggu tidak karena kelucuan yang ditampilkan tetapi tuntunan yang ditampilkan dalam setiap ucapan dan lakon yang mereka perankan.

Semar memiliki beberapa arti semar, seperti  dalam arti samar menilik ciri fisik adalah tidak jelasnya sosok yang ditampilkan berwajah orang tua tetapi memakai kuncung. Mulutnya yang selalu tertawa, namun matanya dalam keadaan menangis, dari perawakan fidik juga tidak jelas apakah dia lelaki atau wanita. Semar juga memiliki arti yang gaib antara tiada namun ada. Semua hal samar itu  tidak menjadi masalah toh para satria terutama pandawa selalu patuh kepadanya.

Semar dari segi ilmu juga setara dengan batara Guru dan banyaknya yang menyebutnya setengah dewa. Semar mewakilkan sebagai hamba yang tawadhu santun dalam kesehariannya terutama dalam menuntun punakawan lainnya yang memang banyak kekurangannnya. Hal tersebut digambarkan melalui gerakan khasnya yang selalu diperlihatkan dengan  tangan kanan lewat jarinya menunjuk keatas  melambangkan ketaatan kepada yang tunggal dan tangan kiri menunjuk kebawah melambangkan sebagai hamba sahaya.

Dengan berbagai kelebihannya itu walau tutur dan lakonnya suka menimbulkan tawaan tetapi semua berisi pelajaran pitutur dan sarat makna. Terima kasih munculnya lakon ini menjadi jembatan bagaimana sunan kalijaga meramunya menjadikan wayang walau dari ajaran hindu mampu dipahami juga sebagai syiar agama Islam.

Kala itu Islam mudah diterima karena cara dakwah penuh kelembutan dan tidak memaksakan melalui pementasan wayang tersebut.

Berikut ini beberapa pitutur atau nasehat Sunan Kalijaga melalui lakon semar:

  1. Ojo ngaku pinter yen durung biso nggoleki lupute awake dewe (Jangan mengaku pintar kalau belum bisa mencari kesalahan diri sendiri.
  2. Ojo ngaku unggul yen ijeh seneng ngasorake wong liyo (jangan mengaku unggul kalau masih senang merendahkan orang lain
  3. Ojo ngaku suci yen durung biso manunggal ing gusti (jangan mengaku suci kalau belum bisa menyatu didalam gusti

Demikian sekelumit pelajaran dari Semar, semoga manfaat

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.