Riya’ halus : Merendah untuk meninggi

rendah-hati

Riya’ menyusup di hati manusia agar manusia berbuat sesuatu bukan karena Allah. Perbuatan merendahnya itu dilakukan agar mendapat pujian dan kekaguman orang lain adalah perbuatan riya’ yang kadang tidak disadari.

Al Gazali menyatakan bahwa seorang pemimpin karena ingin dianggap merakyat dalam suatu acara dia tidak mau didudukkan buat penghormatan bagi dirinya duduk didepan, dia memilih duduk bersama orang lain di belakang. Sepintas ini perbuatan seperti orang yang merendah, namun perbuatan ini mudah menjadi riya’ bila ditujukan untuk mendapat simpati orang lain.

Dalam hal ini berbuatlah sesuatu sesuai porsinya dan biasa saja agar niat untuk mendapat keredhoan Allah semata dapat terus diluruskan tidak mudah dibelokkan kepada hal selain Allah. Sombong sebiji dzarah akan memutus seseorang dari rahmat Allah

Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud Ra dari Nabi Saw bersabda

Tidak akan masuk surga seseorang yang didalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi”

Dalam hal ini perlu teliti melihat gerak hati atas perbuatan yang dilakukan sekalipun itu perbuatan tawadhu. Kembali kepada upaya untuk meluruskan niatnya hanya kepada Allah. Perlu muhasabbah diri bila kita merendah kok malah mendapat hasil yang tidak seperti diharapkan tidak sebagaimana dijanjikan Allah akan dimuliakan. Bila demikian maka bisa jadi tawadhu yang dilakukan hanya berharap pujian orang lain bukan karena Allah.

Sabda Nabi Saw : Tidaklah seseorang itu bertawadhu karena Allah, kecuali Allah Azza Wa Jalla akan tinggikan derajatnya

bagaiman aplikasi saat ini, banyak di medsos saat ini seseorang melakukan pencitraan atau merendah untuk mendapat simpati. Dalam teori sosial hal ini disebut Haumbeldrag perilaku merendah untuk meninggi seperti dilakukan para sosialita dan selebrity.

Sebagai ulama atau ilmuwan dia kan mengatakan saya hanya orang bodoh, bukan juga orang yang shaleh, tidak bisa apa apa sering diucapkan untuk menggambarkan ketawadhuan seseorang dimata masyarakat. Bila ada hati hati lah karena riya’ mudah menyusup kedalam dada sehingga menghanguskan amalan sholeh.

Ibnu Rajab Al Hanbali mengatakan :

Ini ada sisi halus dari riya’, yaitu seseorang kadang merendahkan dirinya sendiri dihadapan orang lain. Dia menghendaki dengannya agar dilihat sebagai orang tawadhu, sehingga derajatnyapun naik di sisi mereka. Merekapun memujinya dengan sifat tawadhunya itu. Inilah salah satu bentuk riya’ yang halus. Sungguh para salaf yang shaleh dahulu telah mewanti wanti hal ini.

Dari tulisan itu bersikap tawadhu saja tidak cukup harus terus dikawal  agar niatnya karena Allah bukan mengharap pujian Manusia, Karena yang berhak menyandang pujian adalah Allah

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.