Kisah Kiai Muda berjuang untuk pesantren lewat amalan doa Ashabul Kahfi

doa-Surat-Al-Kahfi-ayat-10

Kisahnya bermula kala seorang kiai muda bercerita mengenai sulitnya membangun pesantren seperti ditanyakan oleh seseorang:

 

“Begini Mas, kami di sini ini pendatang. Kanan dan kiri kami amalannya tidak sama dengan kami. Beberapa tahun saya mulai membuat rumah dan ingin mendirikan pesantren ini, seperti ada tembok karang yang menghadang. Banyak sekali tantangan, baik yang menyangkut pribadi ataupun kondisi masyarakat sekitar yang amalannya tidak sama dengan kami. Kami mencoba terus bertahan, dengan amalan-amalan wirid yang kami punya. Tapi ternyata kami dan istri, ada pada satu kondisi, di mana kami sudah tidak kuat lagi.”

Kiai muda melanjutkan: “Ada satu kondisi dimana saya menyimpulkan sudah tidak bisa diteruskan untuk tinggal di sini. Akan tetapi sebelum meninggalkan tempat ini, saya bermunajat dan memohon kepada Allah untuk yang terbaik.”

Kiai muda itu meneruskan:

“Sebelum saya sempat putus asa dan memutuskan untuk pergi dari tempat ini, ternyata malamnya saya mimpi mas. Dan ini yang membuat saya seperti mendapat tenaga, kekuatan, dan keberanian kembali.”

“Dalam mimpi itu, tiba-tiba ada tamu datang ke rumah dengan mobil. Orang yang di dalam mobil itu turun dan mengetuk pintu. Saya kagetnya bukan main. Ternyata Gus Dur yang datang. Setelah kami duduk, lalu Gus Dur berbicara: “Menjadi kiai itu harus sabar, jangan berhenti berdoa kepada Allah.” Sepertinya Gus Dur tahu apa yang sedang saya hadapi.

Lalu kiai muda diminta Gus Dur untuk berdoa dengan sebuah doa. Sebelum doa sempat dicatat. Tidak lama setelah itu, Gus Dur dipanggil orang dari mobil: “Dur cepet…,” mobil sambil jalan pelan, ternyata di mobil ada ibunya Gus Dur. Gus Dur kemudian keluar dan masuk mobil.

Kiai muda yang belum sempat mencatat doanya itu, kemudian ikut mengiringi Gus Dur masuk mobil, dan kemudian pergi.

Setelah terbangun, kiai muda sangat tersentak. Dan, kemudian hanya tafakkur terus menerus, karena belum sempat mencatat doanya. Tafakkur itu menghasilkan sebuah kesimpulan. “Saya harus pergi ke Ciganjur.” Saat itu Gus Dur masih hidup.

Kiai muda yang belum punya pesantren seperti sekarang ini, setelah itu musyawarah dengan istrinya ihwal mimpi itu, dan direstui untuk ke Ciganjur. Dengan bekal uang seadanya, kiai muda naik bus untuk bisa sampai ke Ciganjur. Sebelum ke Ciganjur, dia mampir kepada kenalan yang ada di dekat Ciganjur. Dan, ketika sudah sampai di Ciganjur, kiai muda di persilahkan masuk.

Kiai muda meneruskan ceritanya. Ketika masuk, dan salam, lalu, kiai muda meberanikan diri untuk cerita mimpi yang dialaminya. Dan keperluannya datang untuk meminta ijazah doa yang belum sempat dicatat itu. Gus Dur mendengar itu sambil tersenyum-senyum.

“Kamu catat ya, doa dibaca 100 x, rabbanâ âtinâ min ladunka rahmatan wahayyi’ lanâ min amrinâ rasyadâ. Wasilahnya ditambah kepada Sunan Ampel.

Sudah itu aja.”

Kiai muda merasa senang sekali setelah memperoleh doa itu. Dan, ceritanya di Ciganjur ditutup sampai di sini, meskipun ada tambahan cerita di sini. Doa itu akhirnya diwiridkan oleh kiai muda itu setiap hari.

Lalu saya bertanya: “Apa reaksi setelah membaca doa ini, Kiai?”

Kiai muda menjawab: “Alhamdulillah, hati semakin tenang, kuat, dan selalu yaqin dengan Allah. Beberapa bulan setelah itu, beberapa orang yang merintangi saya datang ke rumah, dan sikapnya sudah berbeda. Alhamdulillah. Saya kembali kuat dan tidak putus asa, dan akhirnya pelan-pelan kami bisa membangun pondok ini.”

Hikmah yang bisa diambil dari cerita ini, adalah ketika orang sudah merasa tidak bisa mengupayakan apa-apa, seperti ditunjukkan oleh kiai muda itu, maka mengharap rahmat Allah dan berdoa kepada-Nya adalah jalan terbaik; hal itu juga menunjukkan manusia adalah ciptaan Allah yang lemah, dan di tengah kelemahannya itu, manusia diperintahkan untuk tidak berputus asa terhadap rahmat Allah.

Doa Ashhabul Kahfi ini, menjadi salah satu sebab Allah merahmati Ashahbul Kahfi, dan Allah menidurkan mereka di gua itu sampai 309 tahun (ayat ke-25 surat al-Kahfi), sampai dibangunkan Allah kemudian dengan penuh keheranan. Dan, doa ayat ke-10 dari surat al-Kahfi ini bisa menjadi salah satu perisai untuk mengetuk rahmat Allah.

(Dari Nur Kholik Ridwan adalah penulis buku “NU & Bangsa 1914-2010: Pergulatan Politik dan Kekuasaan”)

http://www.nu.or.id/post/read/84306/gus-dur-dan-kisah-wirid-doa-ashabul-kahfi

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.