Setan yang selalu jadi kambing hitam tiap laku maksiat

 

setan

Kala seseorang melakukan maksiat selalu jadi alasan bahwa itu karena setan, padahal kalau ditelusuri secara faktual peran setan sangatlah minimal, karena selebihnya adalah karena dirinya sendiri.

Setan hanya mampu berbisik itupun juga di hati dan tidaklah mudah masuk bagi orang yang sadar. Hanya hati yang was was dan kosong atau alfa saja yang mudah dimasukinya.  Saat ini bisikan setan di untungkan karena banyak bisikan lainnya yang dipicu oleh banyaknya informasi yang masuk yang menyebabkan seseorang menjadi bingung dalam mengambil keputusan.

Alam bawah sadar inilah ranah yang paling ramai dalam diri seseorang, terjadi pergulatan batin saat seseorang akan bertindak atau melakukan sesuatu. Bagi yang awam suka menyepelekan alam bawah sadar ini karena memang tidak nampak dan pergulatannya juga tidak semua orang mampu menelitinya dengan baik. Yang ada manusia suka keliru meneliti bisikan itu mengira itu bisikan Allah ternyata itu bisikan setan.

Firman Allah dalam hal ini sangat nyata dalam surat terakhir annas sebagai berikut

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

Setan memang sudah kudratnya masuk ke diri manusia lewat ini dan hanya itu kebisaannya dan tidak akan mampu mewujudkan dirinya. Memang sudah janji Rasulullah bahwa pada umat sesudah beliau bahwa setan dan jin begitu juga malaikat hanya mewujudkan diri hingga pada masa baginda Rasulullah saja. Ini yang sangat menguntungkan bagi umat Muhammad sekarang.

Tetapi apa kenyataannya saat ini seakan setan dan jin muncul sebagai sosok nyata dan berhadapan dengan manusia. Muncul ketakutan dan kecemasan manusia terhadap sosok mereka, walau disadari bila ditelusuri bahwa semua itu tidak akan muncul kalau dari diri manusia sendiri yang mengundangnya. Dalam hal ini manusia sering menjadi makhluk lemah berhadapan dengan mereka.

Dalam hal ini perlu kecerdasan memahami kondisi ini. ketakutan apalagi penghambaan kita untuk memperturutkan bisikan mereka adalah memang sudah menjadi komitmen mereka untuk menggoda anak cucu adam hingga akhir zaman sebagaimana janji setan dan jin kepada Allah. Bila menghadapinya serahkan semua pada Allah karena manusia setan dan jin semuanya adalah makhluknya, Allahlah pemilik semuanya.

Manusia telah dibekali akal dan pikiran yang sempurna yang memiliki kemampuan menyebutkan semua benda dan apapun yang ada di bumi langit dan seisinya, memiliki pemahaman luas terhadap ayat ayat Allah dan yang lebih penting memiliki kesadaran untuk selalu mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Rentang menyebutkan, memahami dan berkesadaran ini harus dimiliki oleh manusia yang paripurna.

Oleh karena itu dalam hubungannya dengan makhluk lainnya yaitu setan dan jin sudah tentu harus menyadari kalau manusia di buat sebaik baiknya makhluk dan perkara manusia dapat dipengaruhi dan tunduk pada makhluk selain Allah seperti setan dan jin itu adalah berpulang kepada manusianya.

Allah sudah memberikan pedoman dan tuntunan hidup lewat Al Quran dan sunnah Rasulnya sebagai bekal manusia menjalani hidupnya dan manusia tidak bisa memungkiri itu kalau manusia turun ke dunia sesungguhnya sudah dibekali untuk menghadapi apapun termasuk dengan setan dan jin.

Wallahu a’lam

One Comment Add yours

  1. sayyid says:

    Assalamualaikum wr.wb,
    Pak Mahendraza yg saya hormati,

    syeitan itu adalah ( hawa nafsu ) yg tidak terkendalikan dari pada setiap diri manusia,

    oleh sebab itulah rasulallah telah bersabda,
    Rasulullah SAW keluar dari rumah pada malam hari, aku(aisyah) cemburu karenanya. Tak lama ia kembali dan menyaksikan tingkahku, lalu ia berkata:

    “Apakah kamu telah didatangi syetanmu?” “Apakah syetan bersamaku?” Jawabku. “Ya, bahkan setiap manusia.” Kata Nabi Muhammad SAW. “

    setiap manusia memiliki hawa nafsu yg buruk kecuali para nabi/rasul karena mereka maksum.
    seperti firman Allah,
    “dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (Qur’an 53:3-4)

    rasulallah juga memiliki hawa nafsu tetapi beliau dapat mengendalikannya seperti sabda beliau:

    “Termasuk saya, hanya saja Allah membantuku untuk menundukkannya, sehingga dia masuk Islam. Karena itu, dia tidak memerintahkan kepadaku kecuali yang baik.”

    beliau maksum!

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.