Kisah Tsalabah: Tobatnya diterima Allah meski Nabi Saw dan sahabat menolaknya

tobat2

Kisah ini dituturkan oleh Al-Faqih Abul Laits As-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin.

Adalah Tsa’labah Al-Anshari, ia dipersaudarakan dengan Sa’id bin Abdurrahman oleh Rasulullah.  Ketika itu Rasulullah bersiap menuju Tabuk untuk berperang melawan kaum musyrikin.  Sa’id bin Abdurrahman ikut serta dalam rombongan Rasulullah.

Sementara Tsa’labah tidak ikut serta dan tinggal di rumah Sa’id untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga Sa’id selama ditinggal berperang saudaranya itu.

Suatu hari, saat Tsalabah masuk ke rumah, tiba-tiba sebuah bisikan jahat Iblis la’natullah merasuk ke dalam hatinya. Saat melihat Istri Sa’id, iapun takjub dan terpesona dan Ia tergoda. Seketika bergeloralah nafsunya dan terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan. Tsa’labah telah menodai dirinya dengan perilaku tercela dengan  memperdaya istri Sa’id, saudaranya.

Sesaat setelah kejadian itu, istri Sa’id pun berkata, “Wahai Tsa’labah, sungguh engkau tidak bisa menjaga kehormatan saudaramu yang sedang pergi berjuang di jalan Allah!”Perkataan istri Sa’id itu menghentak kesadaran Tsa’labah. Ia pun menyesal “Wahai, celaka dan binasalah aku!”

Berkata begitu, Tsa’labah pun bergegas lari menuju ke atas bukit, lalu berseru lantang selantang-lantangnya, “Ya Rabb, Engkau, Engkau, dan aku, aku….Engkau yang selalu mengampuni dosa dan aku yang selalu melakukan dosa…”

* * *

Ketika Rasulullah tiba dari peperangan, semua saudara yang ditinggal perang oleh saudaranya menyambut kedatangan mereka, kecuali Tsa’labah. Didorong rasa heran, Sa’id pun bergegas pulang ke rumahnya dan menanyakan hal itu kepada istrinya. “Wahai istriku, apa gerangan yang telah terjadi dengan Tsa’labah, ?” tanya Sa’id.

“Wahai suamiku, ketahuilah, Tsa’labah telah melakukan dosa karenaku sehingga ia berlari menuju ke atas puncak bukit,” jawab istrinya. Sa’id pun bergegas menuju bukit. Setiba di puncak bukit, ia menjumpai Tsa’labah sedang bersujud dengan meletakkan kedua tangannya pada kepalanya seraya berseru dengan suara yang begitu keras, “Alangkah hinanya kedudukan orang yang berbuat maksiat kepada Tuhannya.”

Perlahan Sa’id mendekati Tsa’labah. Lalu berkata kepadanya dengan lembut, “Bangkitlah wahai saudaraku, apakah yang menyebabkan engkau sampai berbuat seperti ini?” Tsa’labah menjawab, “Aku tidak akan bangkit sebelum engkau mengikat kedua tanganku pada leherku dan menuntunku sebagaimana budak yang hina dituntun ke pintu tuannya.”

Berat rasanya Sa’id memenuhi permintaan saudaranya itu. Namun Sa’id pun akhirnya melakukan apa yang diminta oleh saudaranya itu. Dituntunlah Tsa’labah ke rumahnya. Diserahkannya Tsa’labah kepada anaknya yang bernama Khamshanah.

Sejurus kemudian, Khamshanah menuntun ayahnya menjumpai Umar bin Khattab. Tsa’labah pun menceritakan perbuatan keji yang dilakukannya kepada Umar. lalu ia bertanya kepada Umar, “Wahai Umar, katakan kepadaku, bagaimana aku bertaubat?”

Jawaban Umar sungguh di luar dugaannya. Umar jutsru mengusirnya dengan berkata, “Pergilah engkau wahai pendosa. Cepat pergi dari hadapanku. Menurutku, engkau tidak akan bisa bertobat untuk selama-lamanya.”

Bergegaslah ia pergi dari hadapan Umar, lalu menjumpai Abu Bakar. Namun, Abu Bakar pun mengusirnya seperti yang dilakukan Umar. Begitu pun ketika ia menjumpai Ali bin Abu Thalib. Ia pun diusir oleh Ali.

Saat keluar dari rumah Ali,  ia berkata, “Wahai anakku, semua orang telah mematahkan harapanku. Aku berharap Rasulullah tidak memutuskan harapanku.”

Khamshanah lalu membawa ayahnya menuju Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam. Tatkala masuk rumah beliau dan beliau melihat keadaan Tsa’labah, Rasulullah pun berkata, “Wahai Tsa’labah, engkau telah mengingatkan aku tentang rantai dan belenggu neraka jahannam.”

Tsa’labah lalu menceritakan perilaku keji yang telah dilakukannya kepada Rasulullah. “Wahai Nabiyullah, sungguh aku telah melakukan perbuatan keji dengan istri saudaraku sewaktu ia berperang di jalan Allah bersamamu. Beri aku petunjuk, bagaimana aku bertobat?” adunya.

Sungguh, di luar harapan Tsa’labah, Rasul pun mengusirnya. “Pergilah dari sisiku wahai Tsa’labah. Menurutku, engkau tidak bisa bertobat untuk selama-lamanya.”

* * *

Hancur sudah hati Tsa’labah. Hancur berkeping-keping. Harapannya seperti sirna sudah. Menyerpih dalam beribu serpihan. Apalagi, setelah berlalu dari sisi Rasulullah, anak yang sangat disayanginya pun meninggalkannya.

Lengkap sudah derita Tsa’labah. Hatinya merana. Dengan tertatih dan jiwa yang nyaris putus asa, serta tangan masih terbelenggu di leher, ia kembali menuju puncak bukit. Di atas bukit nan lengang, ia menjerit, mengadu kepada Allah Subhanahu wata’ala.

“Ya Allah, Rabb semesta alam, aku telah mendatangi Umar, namun ia malah mengusirku. Aku telah mendatangi Abu Bakar, ia juga mengusirku. Aku telah mendatangi Ali, ia juga mengusirku. Bahkan aku telah mendatangi Rasulullah, nabi utusan-Mu yang mulia, ia juga memutuskan harapanku. Kini tinggal Engkau… Engkah wahai Tuhanku, apa yang akan Engkau lakukan terhadapku. Aku mohon jawaban atas doaku, ‘ya’ atau ‘tidak’. Jika engkau menjawab ‘tidak’, alangkah celakanya aku. Dan jikalau Engkau menjawab ‘ya’, betapa bahagianya diriku.”

Seketika, turunlah malaikat dari langit menjumpai Nabiyullah Muhammad Saw. Malaikat berkata kepada beliau, “Allah bertanya kepadamu, wahai Muhammad, ‘Siapakah yang menciptakan makhluk, Allah atau dirimu?’”

Beliau menjawab, “Allah”.Malaikat pun berkata, “Allah memerintahkan kepadamu untuk menyampaikan berita gembira kepada hamba-Nya, karena Allah telah mengampuni dosanya.”

Menerima kabar itu, Nabi segera bersabda kepada para sahabatnya, “Siapakah yang bisa menjemput Tsa’labah untuk datang ke sini?”

Abu Bakar dan Umar spontan bangkit begitu juga Ali dan Salman tidak mau kalah dan berkata “Wahai Rasulullah, biarlah kami yang menjemputnya.” Akhirnya, beliau menunjuk Ali dan Salman. Keduanya bergegas berangkat menuju bukit di mana Tsa’labah berada. Di puncak bukit, keduanya berjumpa dengan penggembala dari Madinah. Ali pun bertanya, “Apakah engkau melihat sahabat Rasulullah di bukit ini?”

Penggembala itu menjawab, “Mungkin kalian sedang mencari seseorang yang lari karena takut kepada neraka Jahannam.” Ali dan Salman pun mengangguk dan bertanya, “Benar, maka tunjukkanlah tempat di mana ia berada?”

Penggembala itu menjawab, “Tatkala malam tiba, maka ia akan datang ke lembah ini dan duduk di bawah pohon ini seraya berseru dengan suara yang lantang, ‘Betapa hinanya orang yang melakukan maksiat kepada Tuhan’.”

Ali dan Salman kemudian menunggu hingga malam tiba, dan benarlah Tsa’labah datang yang langsung duduk di bawah pohon dan bersujud dengan isak tangis yang menyayat.

Saat Salman mendengar tangisan itu, Salman perlahan mendekatinya. Dengan tutur lembut, Salman berkata, “Wahai Tsa’labah, bangkitlah. Bangkilah karena Allah telah mendengar tobatmu dan mengampuni dosamu.”

Dengan mata sebak karena tangis, Tsa’labah mendongak dan berkata, “Bagaimana sikap Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam?” Salman menjawab dengan mantap, “Sebagaimana yang Tuhan inginkan dan engkau inginkan.”

* * *

Bilal bin Rabah mengumandangkan iqamah untuk shalat. Ali dan Salman membimbing Tsa’labah untuk memasuki masjid untuk shalat berjamaah. Ali dan Salman menempatkan Tsa’labah di shaf yang terakhir. Dalam shalat itu, Rasulullah Saw membaca Alhakumut Takaatsur. Saat mendengar ayat itu, Tsa’labah menarik nafasnya dalam-dalam. Dan ketika Rasulullah membaca Hatta zurtumul maqaabir, Tsa’labah lebih dalam lagi menarik nafasnya. Semakin dalam. Hingga tiada terasa malaikat maut menjemputnya. Pada kondisi shalat, Tsa’labah menjumpai ajalnya. Berpulang ke haribaan Tuhannya dengan tenang berselimut khusnul khatimah.

Seusai shalat, Rasulullah mendatangi Tsa’labah. “Wahai Salman, siramilah ia dengan air.” Salman pun berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ia sudah wafat.”

Tiba-tiba Khamshanah, anak perempuan Tsa’labah, datang ke masjid. Khamshanah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana kabar ayahku. Sesungguhnya aku telah sangat merindukannya.”

Beliau menjawab, “Masuklah engkau ke dalam masjid.” Anak perempuan itu pun masuk ke dalam masjid dan mendapati ayahnya telah wafat. Iapun menangis sedih menjumpai ayahnya yang telah wafat itu.  Saat memegang kepala ayahnya, Khamshanah berkata dengan mata yang sembab oleh air mata, “Ayah, kini siapakah yang akan aku ikuti setelah engkau tiada?”.

Mendengar perkataan Khamshanah itu, Rasulullah lantas berkata, “Wahai Khamshanah, apakah engkau tidak suka apabila aku menjadi ayahmu dan Fatimah menjadi kakakmu?”

Mendengar itu, Khamshanah seketika mendongak ke arah Rasulullah seraya berkata, “Tentu senang, sangat senang wahai Rasulullah.” Khamshanah mendapatkan pelipur lara tak terperi di tengah duka yang menyelimuti jiwanya.

Ketika jenazah Tsa’labah diantar ke kubur, Rasulullah ikut mengiringkan jenazahnya. Manakala sampai di bibir liang kubur, beliau berjalan dengan ujung jari kakinya. Sewaktu pulang, Umar menanyakan perihal itu. “Ya Rasulullah, aku tadi melihat engkau berjalan dengan ujung jari kaki. Gerangan apakah yang terjadi?” tanya Umar.

Beliau menjawab, “Wahai Umar, tadi aku tidak bisa meletakkan semua telapak kaki karena banyaknya malaikat yang hadir.”

* * *

Di akhir penuturan kisahnya, Al-Faqih Abul Laits As-Samarqandi menyatakan, bahwa kisah di atas diriwayatkan oleh banyak penutur dengan berbagai versi susunan kalimatnya. Ada pula yang berpendapat, peristiwa tersebut telah menyebabkan turunnya sebuah ayat. Ayat yang dimaksud adalah:

Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran: 135-136).*

(https://perspektifislam.com/2016/04/18/kisah-tobat-yang-berbuah-nikmat/)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.