Sudah nyamankah hati kita dalam taat?

shalat 2

Nyaman adalah indikator penting ditengah susahnya kita menentukan untuk melihat content terkait agama yang saat ini sangat beragam dan seolah menyajikan yang paqling benar. Dalam kaitan memilih ini saya selalu mendapat ilmunya untuk memilih apa apa yang menyejukkan hati saja bukan sebaliknya membuat hati terbakar atau hal yang sifatnya menebar kebencian.

Nyaman adalah pilihan yang dilakukan ulama atau wali pendahulu mengutamakan nyaman dahulu bagi santrinya dalam mengaji sehingga mereka tidak mencari nyaman dalam maksiat. Karenanya mudah dijumpai atmosfirnya adalah lebih banyak santai kadang guyonan dan tampil menyenangkan sehingga tidak berat mempelajarinya. Penjelasan Allaha digambarkan sebagai yang penuh rahmat dibanding murkanya. Content seorang ulama yang mengedepankan nyaman dan selalu menyenangkan ini dalam ceramahnya cenderung yang saya pilih.

Bila itu dalam menimba ilmu maka dalam keseharian kita beribadah, nyaman juga indikator bagus untuk melihat kondisi hati kita dalam melakukan ibadah. Sudah nyamankah hati kita kala menunaikan shalat dan beribadah lainnya? Nyatanya nyaman dalam taat itu sangat susah contohnya shalat yang ada adalah yang suka dilakukan hanya sebatas menggugurkan kewajiban, terburu buru dan terganggu pikiran kita tidak tertuju kepada Allah.

Padahal jelas shalat yang dilakukan tidak dalam kondisi nyaman seperti itu termasuk kategori orang yang melalaikan shalat seperti dalam surat maka celakalah orang yang shalat yakni yang suka lalai melakukan shalatnya.

Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. al-Ma’un: 4 -5).

Begitu pula dalam membaca Al Quran sebagai pedoman, banyak yang tidak sabar dan meninggalkan untuk membacanya. Padahal membaca Al Quran akan menjadikan diri kita tenang dan nyaman

Kebiasaan membaca alquran tiada lain balasannya adalah  ketenangan. Sabda Nabi :

Itu adalah sakinah (ketenangan) yang turun karena al Quran”  selanjutnya sabda Nabi: Bacalah hai fulan! sesungguhnya ia adalah sakinah yang turun di sisi Al-Quran, atau turun untuk Al Quran.” 

Bila belum lancar tersedia 2 pahala sekaligus yakni pahala karena susah payah dalam mengejanya dan pahala bacaannya dan ingat pahala membaca al Quran sangat besar bukan lagi  perayat melainkan per huruf.

Sekarang coba sportif dalam diri kita, masih nyamankah hati kita kala melakukan kesenangan dunia serupa maksiat? bila iya, hati kita mengalami sakit terparah karena biar bagaimanapun hati terdalam kita akan terus membisikan untuk kembali  tidak melakukan perbuatan itu. Bagi orang yang memiliki iman sudah pasti kala melakukan maksiat akan menjadikan hatinya tidak tenang dan mengarah ke gelisah.

Karena itu orang beriman akan memahami kalau kesenangan tidak selalu membawa ketenangan, namun ketenangan sudah pasti membwa kesenangan. Terkait dengan kesenangan dan hati yang nyaman itu, mengingatkan saya pada hadist masyur baginda Nabi Saw :

Kesenangan duniawi yang ku sukai adalah wanita dan minyak wangi. Dan dijadikan kesejukan mataku di dalam shalat.” (H.R. An-Nasa’i).

Dari hadist ini Nabi Saw berusaha menggambarkan kesenangan dunia yang juga disukai orang umumnya yakni wanita dan farfum, namun yang ketiga yakni menjadikan shalat sebagai kesenangan atau memberi kesejukan mata  itu hanya bagi orang orang pilihan, bila kita mau jujur.

Nabi Saw sudah tentu sangat nyaman dalam melakukan shalatnya dan itu yang harus terus diupayakan orang beriman untuk sampai pada kenyamanan dalam taat serupa itu.

Dalam mencapai tingkat nyaman dalam taat tiada lain tiada bukan adalah melalui proses dan terus menggali ilmunya dari ibadah yang dilakukan serta meyakini kenyamanan yang tertanam di hati itu juga murni atas kehendak Allah bukan karena diri kita semata.

Karena Allah lebih menyukai pada proses daripada melihat suatu hasil dari situ terlihat tekad dan perjuangan seseorang untuk membangun ketaatannya kepada Allah Swt. Namun manusia cenderung melihat ketaatan secara instant dan kasat mata bagaimana seseorang terlihat dari pakaian dan asesoris lainnya sebagai bentuk kesalehan yang dipertontonkan saja, bukan keluar dari hatinya.

Bila demikian nyaman dalam taat memang suatu hal yang sulit namun bila sudah mencapai taraf ini, Inshaallah nyaman serupa ini akan selalu dipenuhi rahmat, nikmat dan berkah karena semua akan dicukupkan Allah yang menjadikan kita enggan berpaling dari terus berharap ridho Allah untuk mencapainya.

Satu hal yang jelas sesuai janji Allah, meskipun saat ini kita beribadah masih terkendala tidak nyaman di hati, bila itu terus dikembalikan untuk diniatkan hanya kepada Allah, tetaplah pahala yang melimpah diberikan kepada hambanya yang terus berikhtiar. Amin YRA.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.