Ingat mati 13 : 3 makna Haul dalam Islam

haul ayah

Letter-A-icon-1 Acara Haul ke 9 Ayahanda kami H.Zainal Abidin bin H Arifin dengan tausiyah dari ustadz Ahmad Bahrul Hikam serta para santri pesantren Darussalam Poris Tangerang, telah dilangsungkan secara sederhana di rumah orang tua.

Inti tausiyah adalah haul bukan hanya sarana berkirim doa untuk almarhum dan sarana pengingat kematian, namun sebagai wujud sampai sejauh mana silaturahim antara anak anak dapat dijaga dan sampai sejauh mana anak anak dapat merawat ibu yang ditinggalkan.

Kisah al qomah yg durhaka kepada ibunya jadi penutup bahwa azab durhaka kepada ibu dp (uang muka)ย  nya diterima langsung di dunia ketika al qomah koma sekian minggu lamanya menjelang sakaratul maut karena tidak ada ridho ibunya.

Arti Haul

Haul berasal dariย bahasa Arab yang berarti setahun. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesiaย (KBBI), haul memiliki maknaย peringatan hari wafat seseorang yg diadakan setahun sekali (biasanya disertai selamatan arwah). Peringatan haulย diadakanย dengan tujuan utama mendoakan ahli kubur agar mendapat rahmat dan ampunan dari Allah swt.

Kegiatan haul dalam agama Islam, didasarkan pada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi r.a. Rasulullah saw.ย selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Sesampainya di Uhud beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam surat Al-Qurโ€™an Surah ar-Raโ€™d ayat 24,ย 

Salamunย โ€˜alaikum bima shabartum faniโ€™ma uqbaย ad-daarย (Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu).

Hadist inilah yang menjadi dasar diperbolehkan peringatan haul atau sejenisnya.

Lalu apa pentingnya diadakanย sebuahย peringatan haul? Setidaknya ada tiga hal yang bisa kita petik sebagai hikmahย dari peringatan haul.

Makna Haul

1.Sebagai pengingat kematian

Pertama.ย Acara haul sejatinyaย sama dengan acara peringatan 3, 7, 40 hariย atau berapapun,ย yang pada intinyaย mengingatkan kitaย akan kematian (dzikrul maut). Kata โ€˜mengingatโ€™, secara logikaย tentu hanyaย dapatย dilakukanย bagiย orang yang pernah mengalaminya, sedangkan kita sendiri belum pernah mengalami kematian.

Oleh karena itu, dengan memperingati untuk kemudianย mengangen-angenย sebuah peristiwa kematian yang telah menimpa pada orang lain, kita menjadi lebih baik dalam memaknai tujuan kehidupan. Bahwa kita semuaย pasti akan mengalami kematian. Dus,ย sebagai orang yang beriman, kita meyakini bahwaย setelah kematian ada fase lain yang akan menunggu kita. Maka, untuk menghadapinya kita mesti mempersiapkan bekal.

2. Belajar dari kisah keteladanan

pada acara haul, biasanya akan dibacakan sebuahย manaqibย (riwayat hidup) seseorang. Di dalamnyaย terdapat banyak keteladanan yang dapat kita ambil.ย Salah satu teladan tersebutย yakni manfaat yang telah mereka berikan untuk orang lain.ย Seseorang yang diperingati haulnya, menurut Abdul Rozaq Shofawi (2010), dikarenakan telah memberikan banyak jasa kepada agama ataupun masyarakat.

Dalam lingkup terkecil seperti keluarga misalnya,ย seorangย anak akan terus mengingat jasa dari kedua orangtuanya,ย atau para guru yang dikenang, sebab jasaย mereka dalam menyebarkan ilmuย kepada para muridnya.

Bahkan,ย meskipun orang-orang tersebut telah meninggal, masih saja dapat menebar kemanfaatanย dan keberkahanย untuk orang lain. Lihat saja di berbagai makam Walisongo misalnya,ย banyakย orang yang mendapatย cipratanย berkah (baik orang yang berjualan, jasa transportasi danย sebagainya) dari paraย auliaย tersebut.

Tentunya, para wali tadi hanya menjadiย wasilahย (sarana) datangnya rezeki, yang diberikan Allah swt.Namun, hal tersebut seperti menjadi sebuah pembenaran padaย sebuahย syairย yang tertulisย kitabย alalaย :ย Akhuย al-โ€˜ilmiย hayyun kholidun baโ€™da mautihi.

Para ulama mereka tetapย โ€˜hidupโ€™ย (nama dan jasanya tetap dikenang) meskipun mereka telah wafat. Sedangkan orangย bodohย yangย hidupnyaย senantiasa merugikan orang lain,ย iaย dianggapย telah โ€˜matiโ€™, meskipun jasadnya masih hidup.

3. Wujud silaturahim dan ukhuwah Islamiyahย 

peringatan haul dapat mempersatukan sebuah kaum. Hal biasannya terjadi pada haul orang orang mulia yang sangat dihormati jasanya dalam syiar Islam seperti para wali. Seperti yang terlihat pada haul beberapa sunan seperti Sunan Ampel di Jawa yang memperingati haul yang ke 568 pada bulan Mei 2017. Bebrbagai acara disiapkan tidak saja tahlil, namun juga hadrah dan kirab selama beberapa hari . Masyarakat dari berbagai lapisan dengan mengikuti berbagai prosesi haul itu, tak peduli kaya-miskin, tua-muda, alim-awam. Mereka juga berasal dari berbagai sukuย daerahย yang berbeda-beda; Jawa, Madura, Banjar, Arab, Cina, Sunda, Betawi dan sebagainya. Kerukunan inilah yang tak ternilai harganya.

http://nujateng.com/2015/02/makna-haul/

Wallahu a’lam

5 responses to “Ingat mati 13 : 3 makna Haul dalam Islam”

  1. bisa jadi sarana untuk bersedekah juga kan ustadz? karena tentunya dalam acara haul kan banyak tu saudara yang hadir

    1. setuju banget banyak manfaatnya haul itu

  2. Tahlilan, Haul dan Semacamnya Adalah Bidโ€™ah Tercela Menurut Muktamar NU ke-1 Tahun 1926
    Posted on 24 Maret 2014
    by Nahimunkar.com

    Bidโ€™ah Tercela
    Haul
    Kyai NU
    muktamar nu
    tahlilan

    Kajian Islam

    Foto muslimedianews.com

    .

    Acara Haul (peringatan ulang tahun kematian) Gus Dur menyelisihi Muktamar NU ke-1 Tahun 1926 dan bukan dari Islam. Karena di Islam tidak ada ajaran haul (peringatan ulang tahun) untuk orang yang sudah meninggal. Bahkan acara ulang tahun untuk orang hidup pun tidak ada di Islam, apalagi untuk orang yang sudah meninggal.

    Walaupun dihiasi dengan lambang NU dan gambar pendiri NU serta pemimpin dan kyai NU, acara tahlilan, haul dan semacamnya yang berkaitan dengan peringatan (selamatan) orang meninggal sejatinya tidak sesuai dengan keputusan Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/21 Oktober 1926. Karena dalam muktamar itu dirujukkan pada hadits riwayat Ahmad
    ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุฑููŠุฑู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู’ุจูŽุฌูŽู„ููŠู‘ู ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูƒูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุนูุฏู‘ู ุงู„ุงูุฌู’ุชูู…ูŽุงุนูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠู‘ูุชู ูˆูŽุตูŽู†ููŠุนูŽุฉูŽ ุงู„ุทู‘ูŽุนูŽุงู…ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฏูŽูู’ู†ูู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ููŠูŽุงุญูŽุฉู. ุชุนู„ูŠู‚ ุดุนูŠุจ ุงู„ุฃุฑู†ุคูˆุท : ุตุญูŠุญ

    Dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata:

    โ€Kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).โ€

    Kitab Iโ€™anatut Thalibin yang dirujuk Muktamar NU ke-1 itu di antaranya menegaskan:
    ูˆู„ุง ุดูƒ ุฃู† ู…ู†ุน ุงู„ู†ุงุณ ู…ู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุจุฏุนุฉ ุงู„ู…ู†ูƒุฑุฉ ููŠู‡ ุฅุญูŠุงุก ู„ู„ุณู†ุฉุŒ ูˆุฅู…ุงุชู‡ ู„ู„ุจุฏุนุฉุŒ ูˆูุชุญ ู„ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ุฎูŠุฑุŒ ูˆุบู„ู‚ ู„ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ุดุฑ

    Dan tidak diragukan lagi bahwa melarang orang-orang untuk melakukan Bidโ€™ah Mungkarah itu (Haulan/Tahlilan : red) adalah menghidupkan Sunnah, mematikan Bidโ€™ah, membuka banyak pintu kebaikan, dan menutup banyak pintu keburukan.

    Bagaimana pula ketika orang NU sendiri melanggar Keputusan Muktamar NU dan sekaligus melanggar Islam namun dibesar-besarkan pelaksanaannya seperti ini?

    Haul Gus Dur ke-4

    Minggu, 29 Desember 2013 โ€“ 09:02 wib

    Ribuan jamaah menghadiri Haul Gus Dur ke-4 di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (28/12/2013). Haul Gus Dur kali ini dihadiri para tokoh politik dan ribuah jamaah, di mana acara diisi dengan tahlilan dan pembacaan satu juta surat Al-Ikhlas.

    Di antara tokoh yang hadir adalah Wakil Menteri Agama Nassarudin Umar, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Sekjen ICIS Hasyim Muzadi, dan Romo Magnis memanjatkan doa untuk almarhum mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada acara Haul Gus Dur ke-4 di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (28/12/2013). Haul Gus Dur kali ini dihadiri para tokoh politik dan ribuah jamaah, di mana acara diisi dengan tahlilan dan pembacaan satu juta surat Al-Ikhlas./viva

    ***
    Dikhawatirkan tidak boleh minum air telaga di Akherat

    Dikhawatirkan, orang-orang yang mengadakan dan melakukan bidโ€™ah munkaroh dan sudah diperingatkan namun justru dibesar-besarkan itu akan terkena hadits tentang orang-orang yang tidak boleh minum air telaga di Akherat kelak.

    Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi Wasallam bersabda,
    ุฃูŽู†ูŽุง ููŽุฑูŽุทููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽูˆู’ุถู ููŽู…ูŽู†ู’ ูˆูŽุฑูŽุฏูŽู‡ู ุดูŽุฑูุจูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุดูŽุฑูุจูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุธู’ู…ูŽุฃู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง ู„ูŽูŠูŽุฑูุฏู ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ุฃูŽู‚ู’ูˆูŽุงู…ูŒ ุฃูŽุนู’ุฑูููู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุนู’ุฑููููˆู†ููŠ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูุญูŽุงู„ู ุจูŽูŠู’ู†ููŠ ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู‘ููŠ ููŽูŠูู‚ูŽุงู„ู ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุฏู’ุฑููŠ ู…ูŽุง ุจูŽุฏู‘ูŽู„ููˆุง ุจูŽุนู’ุฏูŽูƒูŽ ููŽุฃูŽู‚ููˆู„ู ุณูุญู’ู‚ู‹ุง ุณูุญู’ู‚ู‹ุง ู„ูู…ูŽู†ู’ ุจูŽุฏู‘ูŽู„ูŽ ุจูŽุนู’ุฏููŠ

    โ€œAku adalah pendahulu kalian menuju telaga. Siapa saja yang melewatinya, pasti akan meminumnya. Dan barangsiapa meminumnya, niscaya tidak akan haus selamanya. Nanti akan lewat beberapa orang yang melewati diriku, aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku, namun mereka terhalangi menemui diriku.โ€ Beliau melanjutkan, โ€œSesungguhnya mereka termasuk umatku.โ€ Maka dikatakan, โ€œSesungguhnya kamu tidak mengetahui perkara yang telah mereka rubah sepeninggalmu.โ€ Kemudian aku (Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi Wasallam) bersabda: โ€œjauhlah, jauhlah! bagi orang yang merubah (ajaran agama) sesudahku.โ€ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

    ***
    Hukum TAHLILAN menurut NU, silahkan dibaca, mudah-mudahan bermanfaat,..

    April 8, 2012

    Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/21 Oktober 1926

    Mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan kematian adalah bidโ€™ah yang hina namun tidak sampai diharamkan dan merujuk juga kepada Kitab Ianatut Thalibin.

    Namun Nahdliyin generasi berikutnya menganggap pentingnya tahlilan tersebut sejajar (bahkan melebihi) rukun Islam/Ahli Sunnah wal Jamaโ€™ah. Sekalipun seseorang telah melakukan kewajiban-kewajiban agama, namun tidak melakukan tahlilan, akan dianggap tercela sekali, bukan termasuk golongan Ahli Sunnah wal Jamaโ€™ah.

    Di zaman akhir yang ini dimana keadaan pengikut sunnah seperti orang โ€˜anehโ€™ asing di negeri sendiri, begitu banyaknya orang Islam yang meninggalkan kewajiban agama tanpa rasa malu, seperti meninggalkan Sholat Jumโ€™at, puasa Romadhon,dll.

    Sebaliknya masyarakat begitu antusias melaksanakan tahlilan ini, hanya segelintir orang yang berani meninggalkannya. Bahkan non-muslim pun akan merasa kikuk bila tak melaksanakannya. Padahal para ulama terdahulu senantiasa mengingat dalil-dalil yang menganggap buruk walimah (selamatan) dalam suasana musibah tersebut.

    Dari sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali: โ€œKami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit)โ€. (Musnad Ahmad bin Hambal (Beirut: Dar al-Fikr, 1994) juz II, hal 204 & Sunan Ibnu Majah (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 514)

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU) KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABIโ€™UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 DI SURABAYA

    .

    TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :

    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang bertaโ€™ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :

    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :

    Dalam kitab Iโ€™anatut Thalibin Kitabul Janaiz:

    โ€œMAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk bertaโ€™ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: โ€kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).โ€

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :

    โ€œBeliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses taโ€™ziyah jenazah.

    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

    Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keinginan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti โ€œwajibโ€, bagaimana hukumnya.โ€

    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BIDโ€™AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk โ€œmeratapiโ€ atau memuji secara berlebihan (rastsaโ€™).

    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal โ€œOCEHANโ€ ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas.

    Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    [Buku โ€œMasalah Keagamaanโ€ Hasil Muktamar/ Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Maโ€™ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang. Kata Pengantar Menteri Agama Republik Indonesia : H. Maftuh Basuni]

    Keterangan lebih lengkapnya lihat dalam Kitab Iโ€™anatut Thalibin Juz 2 hal. 165 -166 , Seperti terlampir di bawah ini :
    ูˆู‚ุฏ ุฃุฑุณู„ ุงู„ุงู…ุงู… ุงู„ุดุงูุนูŠ โ€“ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ โ€“ ุฅู„ู‰ ุจุนุถ ุฃุตุญุงุจู‡ ูŠุนุฒูŠู‡ ููŠ ุงุจู† ู„ู‡ ู‚ุฏ ู…ุงุช ุจู‚ูˆู„ู‡: ุฅู†ูŠ ู…ุนุฒูŠูƒ ู„ุง ุฅู†ูŠ ุนู„ู‰ ุซู‚ุฉ* * ู…ู† ุงู„ุฎู„ูˆุฏุŒ ูˆู„ูƒู† ุณู†ุฉ ุงู„ุฏูŠู† ูู…ุง ุงู„ู…ุนุฒู‰ ุจุจุงู‚ ุจุนุฏ ู…ูŠุชู‡ * * ูˆู„ุง ุงู„ู…ุนุฒูŠ ูˆู„ูˆ ุนุงุดุง ุฅู„ู‰ ุญูŠู† ูˆุงู„ุชุนุฒูŠุฉ: ู‡ูŠ ุงู„ุงู…ุฑ ุจุงู„ุตุจุฑุŒ ูˆุงู„ุญู…ู„ ุนู„ูŠู‡ ุจูˆุนุฏ ุงู„ุงุฌุฑุŒ ูˆุงู„ุชุญุฐูŠุฑ ู…ู† ุงู„ูˆุฒุฑ ุจุงู„ุฌุฒุนุŒ ูˆุงู„ุฏุนุงุก ู„ู„ู…ูŠุช ุจุงู„ู…ุบูุฑุฉ ูˆู„ู„ุญูŠ ุจุฌุจุฑ ุงู„ู…ุตูŠุจุฉุŒ ููŠู‚ุงู„ ููŠู‡ุง: ุฃุนุธู… ุงู„ู„ู‡ ุฃุฌุฑูƒุŒ ูˆุฃุญุณู† ุนุฒุงุกูƒุŒ ูˆุบูุฑ ู„ู…ูŠุชูƒุŒ ูˆุฌุจุฑ ู…ุนุตูŠุชูƒุŒ ุฃูˆ ุฃุฎู„ู ุนู„ูŠูƒุŒ ุฃูˆ ู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ.ูˆู‡ุฐุง ููŠ ุชุนุฒูŠุฉ ุงู„ู…ุณู„ู… ุจุงู„ู…ุณู„ู….
    ูˆุฃู…ุง ุชุนุฒูŠุฉ ุงู„ู…ุณู„ู… ุจุงู„ูƒุงูุฑ ูู„ุง ูŠู‚ุงู„ ููŠู‡ุง: ูˆุบูุฑ ู„ู…ูŠุชูƒุŒ ู„ุงู† ุงู„ู„ู‡ ู„ุง ูŠุบูุฑ ุงู„ูƒูุฑ.
    ูˆู‡ูŠ ู…ุณุชุญุจุฉ ู‚ุจู„ ู…ุถูŠ ุซู„ุงุซุฉ ุฃูŠุงู… ู…ู† ุงู„ู…ูˆุชุŒ ูˆุชูƒุฑู‡ ุจุนุฏ ู…ุถูŠู‡ุง.ูˆูŠุณู† ุฃู† ูŠุนู… ุจู‡ุง ุฌู…ูŠุน ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุช ู…ู† ุตุบูŠุฑูˆูƒุจูŠุฑุŒ ูˆุฑุฌู„ ูˆุงู…ุฑุฃุฉุŒ ุฅู„ุง ุดุงุจุฉ ูˆุฃู…ุฑุฏ ุญุณู†ุงุŒ ูู„ุง ูŠุนุฒูŠู‡ู…ุง ุฅู„ุง ู…ุญุงุฑู…ู‡ู…ุงุŒ ูˆุฒูˆุฌู‡ู…ุง.ูˆูŠูƒุฑู‡ ุงุจุชุฏุงุก ุฃุฌู†ุจูŠ ู„ู‡ู…ุง ุจุงู„ุชุนุฒูŠุฉุŒ ุจู„ ุงู„ุญุฑู…ุฉ ุฃู‚ุฑุจ.ูˆูŠูƒุฑู‡ ู„ุงู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุช ุงู„ุฌู„ูˆุณ ู„ู„ุชุนุฒูŠุฉุŒ ูˆุตู†ุน ุทุนุงู… ูŠุฌู…ุนูˆู† ุงู„ู†ุงุณ ุนู„ูŠู‡ุŒ ู„ู…ุง ุฑูˆู‰ ุฃุญู…ุฏ ุนู† ุฌุฑูŠุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุจุฌู„ูŠุŒ ู‚ุงู„: ูƒู†ุง ู†ุนุฏ ุงู„ุงุฌุชู…ุงุน ุฅู„ู‰ ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุช ูˆุตู†ุนู‡ู… ุงู„ุทุนุงู… ุจุนุฏ ุฏูู†ู‡ ู…ู† ุงู„ู†ูŠุงุญุฉุŒ ูˆูŠุณุชุญุจ ู„ุฌูŠุฑุงู† ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุช โ€“ ูˆู„ูˆ ุฃุฌุงู†ุจ โ€“ ูˆู…ุนุงุฑูู‡ู… โ€“ ูˆุฅู† ู„ู… ูŠูƒูˆู†ูˆุง ุฌูŠุฑุงู†ุง โ€“ ูˆุฃู‚ุงุฑุจู‡ ุงู„ุงุจุงุนุฏ โ€“ ูˆุฅู† ูƒุงู†ูˆุง ุจุบูŠุฑ ุจู„ุฏ ุงู„ู…ูŠุช โ€“ ุฃู† ูŠุตู†ุนูˆุง ู„ุงู‡ู„ู‡ ุทุนุงู…ุง ูŠูƒููŠู‡ู… ูŠูˆู…ุง ูˆู„ูŠู„ุฉุŒ ูˆุฃู† ูŠู„ุญูˆุง ุนู„ูŠู‡ู… ููŠ ุงู„ุงูƒู„.ูˆูŠุญุฑู… ุตู†ุนู‡ ู„ู„ู†ุงุฆุญุฉุŒ ู„ุงู†ู‡ ุฅุนุงู†ุฉ ุนู„ู‰ ู…ุนุตูŠุฉ.
    ูˆู‚ุฏ ุงุทู„ุนุช ุนู„ู‰ ุณุคุงู„ ุฑูุน ู„ู…ูุงุชูŠ ู…ูƒุฉ ุงู„ู…ุดุฑูุฉ ููŠู…ุง ูŠูุนู„ู‡ ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุช ู…ู† ุงู„ุทุนุงู….ูˆุฌูˆุงุจ ู…ู†ู‡ู… ู„ุฐู„ูƒ.
    (ูˆุตูˆุฑุชู‡ู…ุง).
    ู…ุง ู‚ูˆู„ ุงู„ู…ูุงุชูŠ ุงู„ูƒุฑุงู… ุจุงู„ุจู„ุฏ ุงู„ุญุฑุงู… ุฏุงู… ู†ูุนู‡ู… ู„ู„ุงู†ุงู… ู…ุฏู‰ ุงู„ุงูŠุงู…ุŒ ููŠ ุงู„ุนุฑู ุงู„ุฎุงุต ููŠ ุจู„ุฏุฉ ู„ู…ู† ุจู‡ุง ู…ู† ุงู„ุงุดุฎุงุต ุฃู† ุงู„ุดุฎุต ุฅุฐุง ุงู†ุชู‚ู„ ุฅู„ู‰ ุฏุงุฑ ุงู„ุฌุฒุงุกุŒ ูˆุญุถุฑ ู…ุนุงุฑูู‡ ูˆุฌูŠุฑุงู†ู‡ ุงู„ุนุฒุงุกุŒ ุฌุฑู‰ ุงู„ุนุฑู ุจุฃู†ู‡ู… ูŠู†ุชุธุฑูˆู† ุงู„ุทุนุงู…ุŒ ูˆู…ู† ุบู„ุจุฉ ุงู„ุญูŠุงุก ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุช ูŠุชูƒู„ููˆู† ุงู„ุชูƒู„ู ุงู„ุชุงู…ุŒ ูˆูŠู‡ูŠุฆูˆู† ู„ู‡ู… ุฃุทุนู…ุฉ ุนุฏูŠุฏุฉุŒ ูˆูŠุญุถุฑูˆู†ู‡ุง ู„ู‡ู… ุจุงู„ู…ุดู‚ุฉ ุงู„ุดุฏูŠุฏุฉ.ูู‡ู„ ู„ูˆ ุฃุฑุงุฏ ุฑุฆูŠุณ ุงู„ุญูƒุงู… -ุจู…ุง ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุฑูู‚ ุจุงู„ุฑุนูŠุฉุŒ ูˆุงู„ุดูู‚ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุงู‡ุงู„ูŠ โ€“ ุจู…ู†ุน ู‡ุฐู‡ ุงู„ู‚ุถูŠุฉ ุจุงู„ูƒู„ูŠุฉ ู„ูŠุนูˆุฏูˆุง ุฅู„ู‰ ุงู„ุชู…ุณูƒ ุจุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุณู†ูŠุฉุŒ ุงู„ู…ุฃุซูˆุฑุฉ ุนู† ุฎูŠุฑ ุงู„ุจุฑูŠุฉ ูˆุฅู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ ุฑุจู‡ ุตู„ุงุฉ ูˆุณู„ุงู…ุงุŒ ุญูŠุซ ู‚ุงู„: ุงุตู†ุนูˆุง ู„ุขู„ ุฌุนูุฑ ุทุนุงู…ุง ูŠุซุงุจ ุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ุงู„ู…ู†ุน ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ุŸ ุฃููŠุฏูˆุง ุจุงู„ุฌูˆุงุจ ุจู…ุง ู‡ูˆ ู…ู†ู‚ูˆู„ ูˆู…ุณุทูˆุฑ.
    (ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡) ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ูˆุณู„ู… ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุงู„ุณุงู„ูƒูŠู† ู†ู‡ุฌู‡ู… ุจุนุฏู‡.ุงู„ู„ู‡ู… ุฃุณุฃู„ูƒ ุงู„ู‡ุฏุงูŠุฉ ู„ู„ุตูˆุงุจ.
    ู†ุนู…ุŒ ู…ุง ูŠูุนู„ู‡ ุงู„ู†ุงุณ ู…ู† ุงู„ุงุฌุชู…ุงุน ุนู†ุฏ ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุช ูˆุตู†ุน ุงู„ุทุนุงู…ุŒ ู…ู† ุงู„ุจุฏุน ุงู„ู…ู†ูƒุฑุฉ ุงู„ุชูŠ ูŠุซุงุจ ุนู„ู‰ ู…ู†ุนู‡ุง ูˆุงู„ูŠ ุงู„ุงู…ุฑุŒ ุซุจุช ุงู„ู„ู‡ ุจู‡ ู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุฏูŠู† ูˆุฃูŠุฏ ุจู‡ ุงู„ุงุณู„ุงู… ูˆุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†.
    ู‚ุงู„ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญุฌุฑ ููŠ (ุชุญูุฉ ุงู„ู…ุญุชุงุฌ ู„ุดุฑุญูƒ ุงู„ู…ู†ู‡ุงุฌ): ูˆูŠุณู† ู„ุฌูŠุฑุงู† ุฃู‡ู„ู‡ โ€“ ุฃูŠ ุงู„ู…ูŠุช โ€“ ุชู‡ูŠุฆุฉ ุทุนุงู… ูŠุดุจุนู‡ู… ูŠูˆู…ู‡ู… ูˆู„ูŠู„ุชู‡ู…ุŒ ู„ู„ุฎุจุฑ ุงู„ุตุญูŠุญ.ุงุตู†ุนูˆุง ู„ุขู„ ุฌุนูุฑ ุทุนุงู…ุง ูู‚ุฏ ุฌุงุกู‡ู… ู…ุง ูŠุดุบู„ู‡ู…
    .
    ูˆูŠู„ุญ ุนู„ูŠู‡ู… ููŠ ุงู„ุงูƒู„ ู†ุฏุจุงุŒ ู„ุงู†ู‡ู… ู‚ุฏ ูŠุชุฑูƒูˆู†ู‡ ุญูŠุงุกุŒ ุฃูˆ ู„ูุฑุท ุฌุฒุน.ูˆูŠุญุฑู… ุชู‡ูŠุฆู‡ ู„ู„ู†ุงุฆุญุงุช ู„ุงู†ู‡ ุฅุนุงู†ุฉ ุนู„ู‰ ู…ุนุตูŠุฉุŒ ูˆู…ุง ุงุนุชูŠุฏ ู…ู† ุฌุนู„ ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุช ุทุนุงู…ุง ู„ูŠุฏุนูˆุง ุงู„ู†ุงุณ ุฅู„ูŠู‡ุŒ ุจุฏุนุฉ ู…ูƒุฑูˆู‡ุฉ โ€“ ูƒุฅุฌุงุจุชู‡ู… ู„ุฐู„ูƒุŒ ู„ู…ุง ุตุญ ุนู† ุฌุฑูŠุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡.ูƒู†ุง ู†ุนุฏ ุงู„ุงุฌุชู…ุงุน ุฅู„ู‰ ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุช ูˆุตู†ุนู‡ู… ุงู„ุทุนุงู… ุจุนุฏ ุฏูู†ู‡ ู…ู† ุงู„ู†ูŠุงุญุฉ.
    ูˆูˆุฌู‡ ุนุฏู‡ ู…ู† ุงู„ู†ูŠุงุญุฉ ู…ุง ููŠู‡ ู…ู† ุดุฏุฉ ุงู„ุงู‡ุชู…ุงู… ุจุฃู…ุฑ ุงู„ุญุฒู†.
    ูˆู…ู† ุซู… ูƒุฑู‡ ุงุฌุชู…ุงุน ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุช ู„ูŠู‚ุตุฏูˆุง ุจุงู„ุนุฒุงุกุŒ ุจู„ ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠู†ุตุฑููˆุง ููŠ ุญูˆุงุฆุฌู‡ู…ุŒ ูู…ู† ุตุงุฏูู‡ู… ุนุฒุงู‡ู….
    ุงู‡.
    ูˆููŠ ุญุงุดูŠุฉ ุงู„ุนู„ุงู…ุฉ ุงู„ุฌู…ู„ ุนู„ู‰ ุดุฑุญ ุงู„ู…ู†ู‡ุฌ: ูˆู…ู† ุงู„ุจุฏุน ุงู„ู…ู†ูƒุฑุฉ ูˆุงู„ู…ูƒุฑูˆู‡ ูุนู„ู‡ุง: ู…ุง ูŠูุนู„ู‡ ุงู„ู†ุงุณ ู…ู† ุงู„ูˆุญุดุฉูˆุงู„ุฌู…ุน ูˆุงู„ุงุฑุจุนูŠู†ุŒ ุจู„ ูƒู„ ุฐู„ูƒ ุญุฑุงู… ุฅู† ูƒุงู† ู…ู† ู…ุงู„ ู…ุญุฌูˆุฑุŒ ุฃูˆ ู…ู† ู…ูŠุช ุนู„ูŠู‡ ุฏูŠู†ุŒ ุฃูˆ ูŠุชุฑุชุจ ุนู„ูŠู‡ ุถุฑุฑุŒ ุฃูˆ ู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ.
    ุงู‡.ูˆู‚ุฏ ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ (ุต) ู„ุจู„ุงู„ ุจู† ุงู„ุญุฑุซ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡: ูŠุง ุจู„ุงู„ ู…ู† ุฃุญูŠุง ุณู†ุฉ ู…ู† ุณู†ุชูŠ ู‚ุฏ ุฃู…ูŠุชุช ู…ู† ุจุนุฏูŠุŒ ูƒุงู† ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุงุฌุฑ ู…ุซู„ ู…ู† ุนู…ู„ ุจู‡ุงุŒ ู„ุง ูŠู†ู‚ุต ู…ู† ุฃุฌูˆุฑู‡ู… ุดูŠุฆุง.
    ูˆู…ู† ุงุจุชุฏุน ุจุฏุนุฉ ุถู„ุงู„ุฉ ู„ุง ูŠุฑุถุงู‡ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุณูˆู„ู‡ุŒ ูƒุงู† ุนู„ูŠู‡ ู…ุซู„ ู…ู† ุนู…ู„ ุจู‡ุงุŒ ู„ุง ูŠู†ู‚ุต ู…ู† ุฃูˆุฒุงุฑู‡ู… ุดูŠุฆุง.ูˆู‚ุงู„ (ุต): ุฅู† ู‡ุฐุง ุงู„ุฎูŠุฑ ุฎุฒุงุฆู†ุŒ ู„ุชู„ูƒ ุงู„ุฎุฒุงุฆู† ู…ูุงุชูŠุญุŒ ูุทูˆุจู‰ ู„ุนุจุฏ ุฌุนู„ู‡ ุงู„ู„ู‡ ู…ูุชุงุญุง ู„ู„ุฎูŠุฑุŒ ู…ุบู„ุงู‚ุง ู„ู„ุดุฑ.ูˆูˆูŠู„ ู„ุนุจุฏ ุฌุนู„ู‡ ุงู„ู„ู‡ ู…ูุชุงุญุง ู„ู„ุดุฑุŒ ู…ุบู„ุงู‚ุง ู„ู„ุฎูŠุฑ.
    ูˆู„ุง ุดูƒ ุฃู† ู…ู†ุน ุงู„ู†ุงุณ ู…ู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุจุฏุนุฉ ุงู„ู…ู†ูƒุฑุฉ ููŠู‡ ุฅุญูŠุงุก ู„ู„ุณู†ุฉุŒ ูˆุฅู…ุงุชู‡ ู„ู„ุจุฏุนุฉุŒ ูˆูุชุญ ู„ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ุฎูŠุฑุŒ ูˆุบู„ู‚ ู„ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุฃุจูˆุงุจ ุงู„ุดุฑุŒ ูุฅู† ุงู„ู†ุงุณ ูŠุชูƒู„ููˆู† ุชูƒู„ูุง ูƒุซูŠุฑุงุŒ ูŠุคุฏูŠ ุฅู„ู‰ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุฐู„ูƒ ุงู„ุตู†ุน ู…ุญุฑู…ุง.ูˆุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู….
    ูƒุชุจู‡ ุงู„ู…ุฑุชุฌูŠ ู…ู† ุฑุจู‡ ุงู„ุบูุฑุงู†: ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุฒูŠู†ูŠ ุฏุญู„ุงู† โ€“ ู…ูุชูŠ ุงู„ุดุงูุนูŠุฉ ุจู…ูƒุฉ ุงู„ู…ุญู…ูŠุฉ โ€“ ุบูุฑ ุงู„ู„ู‡ ู„ู‡ุŒ ูˆู„ูˆุงู„ุฏูŠู‡ุŒ ูˆู…ุดุงูŠุฎู‡ุŒ ูˆุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†.
    (ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡) ู…ู† ู…ู…ุฏ ุงู„ูƒูˆู† ุฃุณุชู…ุฏ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุงู„ุนูˆู†.ู†ุนู…ุŒ ูŠุซุงุจ ูˆุงู„ูŠ ุงู„ุงู…ุฑ โ€“ ุถุงุนู ุงู„ู„ู‡ ู„ู‡ ุงู„ุงุฌุฑุŒ ูˆุฃูŠุฏู‡ ุจุชุฃูŠูŠุฏู‡ โ€“ ุนู„ู‰ ู…ู†ุนู‡ู… ุนู† ุชู„ูƒ ุงู„ุงู…ูˆุฑ ุงู„ุชูŠ ู‡ูŠ ู…ู† ุงู„ุจุฏุน ุงู„ู…ุณุชู‚ุจุญุฉ ุนู†ุฏ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ.
    ู‚ุงู„ ููŠ (ุฑุฏ ุงู„ู…ุญุชุงุฑ ุชุญุช ู‚ูˆู„ ุงู„ุฏุงุฑ ุงู„ู…ุฎุชุงุฑ) ู…ุง ู†ุตู‡: ู‚ุงู„ ููŠ ุงู„ูุชุญ: ูˆูŠุณุชุญุจ ู„ุฌูŠุฑุงู† ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุชุŒ ูˆุงู„ุงู‚ุฑุจุงุก ุงู„ุงุจุงุนุฏุŒ ุชู‡ูŠุฆุฉ ุทุนุงู… ู„ู‡ู… ูŠุดุจุนู‡ู… ูŠูˆู…ู‡ู… ูˆู„ูŠู„ุชู‡ู…ุŒ ู„ู‚ูˆู„ู‡ (ุต): ุงุตู†ุนูˆุง ู„ุขู„ ุฌุนูุฑ
    ุทุนุงู…ุง
    (ู…ุง ูู‚ุฏ ุฌุงุกู‡ู… ู…ุง ูŠุดุบู„ู‡ู….ุญุณู†ู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠุŒ ูˆุตุญุญู‡ ุงู„ุญุงูƒู….
    ูˆู„ุงู†ู‡ ุจุฑ ูˆู…ุนุฑูˆูุŒ ูˆูŠู„ุญ ุนู„ูŠู‡ู… ููŠ ุงู„ุงูƒู„ุŒ ู„ุงู† ุงู„ุญุฒู† ูŠู…ู†ุนู‡ู… ู…ู† ุฐู„ูƒุŒ ููŠุถุนููˆู† ุญูŠู†ุฆุฐ.ูˆู‚ุงู„ ุฃูŠุถุง: ูˆูŠูƒุฑู‡ ุงู„ุถูŠุงูุฉ ู…ู† ุงู„ุทุนุงู… ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุชุŒ ู„ุงู†ู‡ ุดุฑุน ููŠ ุงู„ุณุฑูˆุฑุŒ ูˆู‡ูŠ ุจุฏุนุฉ.ุฑูˆู‰ ุงู„ุงู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ ูˆุงุจู† ู…ุงุฌู‡ ุจุฅุณู†ุงุฏ ุตุญูŠุญุŒ ุนู† ุฌุฑูŠุฑ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ุŒ ู‚ุงู„:ูƒู†ุง ู†ุนุฏ ุงู„ุงุฌุชู…ุงุน ุฅู„ู‰ ุฃู‡ู„ ุงู„ู…ูŠุช ูˆุตู†ุนู‡ู… ุงู„ุทุนุงู… ู…ู† ุงู„ู†ูŠุงุญุฉ.ุงู‡.
    ูˆููŠ ุงู„ุจุฒุงุฒ: ูˆูŠูƒุฑู‡ ุงุชุฎุงุฐ ุงู„ุทุนุงู… ููŠ ุงู„ูŠูˆู… ุงู„ุงูˆู„ ูˆุงู„ุซุงู„ุซ ูˆุจุนุฏ ุงู„ุงุณุจูˆุนุŒ ูˆู†ู‚ู„ ุงู„ุทุนุงู… ุฅู„ู‰ ุงู„ู‚ุจุฑ ููŠ ุงู„ู…ูˆุงุณู… ุฅู„ุฎ.ูˆุชู…ุงู…ู‡ ููŠู‡ุŒ ูู…ู† ุดุงุก ูู„ูŠุฑุงุฌุน.ูˆุงู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู….ูƒุชุจู‡ ุฎุงุฏู… ุงู„ุดุฑูŠุนุฉ ูˆุงู„ู…ู†ู‡ุงุฌ: ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุณุฑุงุฌุŒ ุงู„ุญู†ููŠุŒ ู…ูุชูŠ ู…ูƒุฉ ุงู„ู…ูƒุฑู…ุฉ โ€“ ูƒุงู† ุงู„ู„ู‡ ู„ู‡ู…ุง ุญุงู…ุฏุง ู…ุตู„ูŠุง ู…ุณู„ู…ุง

    Terjemahan kalimat yang telah digaris bawahi atau ditulis tebal di atas, di dalam Kitab Iโ€™anatut Thalibin :

    1. Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk Bidโ€™ah Mungkar, yang bagi orang yang melarangnya akan diberi pahala.

    2. Dan apa yang telah menjadi kebiasaan, ahli mayit membuat makanan untuk orang-orang yang diundang datang padanya, adalah Bidโ€™ah yang dibenci.

    3. Dan tidak diragukan lagi bahwa melarang orang-orang untuk melakukan Bidโ€™ah Mungkarah itu (Haulan/Tahlilan : red) adalah menghidupkan Sunnah, mematikan Bidโ€™ah, membuka banyak pintu kebaikan, dan menutup banyak pintu keburukan.

    4. Dan dibenci bagi para tamu memakan makanan keluarga mayit, karena telah disyariโ€™atkan tentang keburukannya, dan perkara itu adalah Bidโ€™ah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih, dari Jarir ibnu Abdullah, berkata : โ€œKami menganggap berkumpulnya manusia di rumah keluarga mayit dan dihidangkan makanan , adalah termasuk Niyahahโ€

    5. Dan dibenci menyelenggarakan makanan pada hari pertama, ketiga, dan sesudah seminggu dst

    1. Alhamdulilah sekiranya manfaat

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.