rantang

Tradisi memberi makan, insha Allah, di negeri kita ini masih terpelihara dengan baik. Ada banyak keluarga Muslim yang secara rutin memberi makan di setiap hari jumat atau sehabis jumat bagi jemaah mesjid di dekat rumah dia.

Adapula tradisi kyai kyai dulu, yang insha Allah masih terus dijalankan oleh kyai kyai penerusnya saat ini adalah memberi makan tamunya yang datang. Tidak sedikit bahkan seperti yang terjadi pada mbah Mangli, tamunya sebelum bicara di kasih makan dulu. Baru setelah kenyang, diajak bicara.

Ada lagi keluarga keluarga yang sengaja masak banyak, hanya untuk berbagi dengan tetangganya. Yang satu bawain makanan tetangganya dan tetangganya  tersebut tidak mulangin dengan piring kosong, melainkan mengisinya kembali dengan makanan lain yang ia miliki, semua dilakukan dengan ikhlash.

Begitulah tradisi memberi makan adalah tradisi yang baik, bahkan sangat baik. Selain sarat dengan nilai silaturahim. Dengan saling tukar menukar makanan atau sekedar memberi tanpa balas, maka seseorang sudah membangun keakraban. Bagi keluarga betawi, bila seseorang sudah minum air di rumahnya, maka dia sudah menjadi saudara. Lebih jauh, berbagi makanan juga adalah salah satu kunci kesejahteraan berdimensi sosial sebagaimana di tawarkan oleh Rasulullah Saw.

Lalu apa fadilahnya tradisi itu ?

Berikut ini adalah pengalaman seorang kawan yang keluarganya sakit sakitan terus. Terus diberitahu, bahwa cobalah memberi makan orang orang yang sedang shalat dhuhur di mesjid. Beli nasi bungkus,  kemudian di bagi bagikan.

Di beri tahu juga untuk membawa beras dan sejumlah pangan ke pondok pondok pesantren dan meminta doa dari kyai dan para santrinya Inshaallah akan disediakan jalan jalan kesembuhan.

Alhamdulilah seiring dengan keyakinannya kepada Allah, keluarganya berangsur angsur terhindarkan dari penyakit. Bahkan dia merasa badannya lebih enteng, dan rezekinya lebih mengalir.

Terus ada kebiasaan seorang pengusaha, setiap masuk Ramadan, iya menyediakan takjil, tidak tanggung tanggung 75 juta untuk satu bulan. Dan dia mengaku sejak itu bisnisnya selalu lancar sebab tradisi memberi makan yang dilakukan setiap tahunnya itu.

Ketika ditanya kok bisa yakin bahwa memberi makan ini membuatnya berhasil?

Dia bercerita bahwa dia sejak memulai karir sebagai buruh di perusahaannya, dan dia punya kebiasaan memberi makan. Ia indekos selama jadi buruh dan sebelum berangkat menyempatkan diri untuk masak. Dia masak bukan buat sendiri tetapi untuk kawan kawannya yang lain.

Dari dulu kebiasaan ini telah memberi manfaat terutama dalam karir. Karirnya lebih cepat melesat, sebentar saja sudah menjadi mandor. Hingga kemudian dia memutuskan untuk berjualan makanan. Setelah berjualan makanan, ia kemudian memegang salah satu panti asuhan untuk urusan makannya. Enggak tahu, kata dia, pokoknya dia senang sekali memberi makan orang. Itulah kemudian dagangannya menjadi berkah. Sebab Allah juga tahu, bahwa rezeki dia dikembalikan ke orang banyak.

Makanya,’, kata pengusaha ini. ‘ Kalau ditemukan rezeki mampet, bisa jadi karena kurang sedekah.

Seorang ibu yang putranya menderita lumpuh, meminta nasehat bagi kelumpuhan putranya ini.

Diberitahu oleh Ustadz di mana dia meminta nasihat, bahwa introspeksi dulu dari jalan rezeki yang dialirkan oleh dia dan oleh suaminya. Manakala ditemukan bahwa tidak ada yang salah dalam urusan rezeki, Insha allah inilah ujian. Tetapi bilamana ditemukan ada yang salah dalam urusan rezeki, maka bisa jadi ini adalah azab.

Tetapi dikasih tahu ke si ibu, mau ujian atau azab, Allah itu sayang, Ujian tandanya disayang, diazab tandanya juga sayang. Kalau diuji ya sabar, kalo diazab ya tobat. Semuanya ada kehendak Allah supaya kita menjadi lebih baik.

Kemudian setelah introspeksi, sempurnakan dengan memperbaiki shalat, memperbanyak sedekah dan istighfar. Cintai juga shalat sunat tahajud dan shalat sunat hajat.

Ada yang menarik, ketika ustadz ini bicara sedekah, Ustadz ini menyarankan ke ibu yang anaknya lumpuh ini agar rajin rajin memberi makan. Alasan ustadz sederhana, dengan memberi makan, orang yang lemas jadi bertenaga. Nah siapa tahu, kebaikan dengan membuat orang jadi kuat, jadi bertenaga, lantaran diberi makan, berpengaruh ke kaki anaknya.

Ajaib. Ternyata setelah si ibu ini secara rutin memberi makan kepada banyak orang, anaknya berangsur angsur bisa jalan. Ibu ini setiap jumat pagi jalan jalan ke madrasah madrasah dan memberi makan para guru gurunya sarapan jumat pagi.

(dari buku Mencari Tuhan yang hilang, Ustadz Yusuf Mansur)

Wallahu a’lam

.