Uzlah dan memaknai kembali arti sibuk adalah hikmah di balik wabah Corona

korona vir

Sebagai insan beriman apapun kejadian yang di muka bumi baik yang terjadi saat ini dengan wabah Corona maka yang harus diperhatikan adalah terus berprasangka baik kepada Allah. Pasti ada hikmah dibalik kejadian yang melanda seluruih manusia di muka bumi ini.

Perbedaan yang nyata selama wabah melanda adalah berkurangnya kesibukan dunia akibat penerapan social distancing yang diyakini mujarab menghambat maraknya virus ini menyebar. Semua manusia kembali ke rumah berkumpul di keluarga inti sebagai himbauan untuk mengurangi penularan wabah ini.

Akibatnya semua jalan jalan sepi kendaraan bermotor berkurang aktivitas pabrik dan hal lain yang senantiasa riuh menjadi senyap. Semua dengan sukarela menetap dirumah sambil menunggu wabah ini berakhir. Di semua bagian dunia terbaca grafik korban positif korona yang terus bertambah terasa tidak ada satu negarapun yang tidak terdampak.

Satu hal yang nampak nyata keriuhan tidak lagi berlangsung di tempat yang menyedot keramaian dimanapun termasuk rumah ibadah juga dilarang untuk melaksanakan ritual ibadah semua dihimbau untuk dilakukan dirumah. Terbersit rasa sedih saat Ramadan nanti meninggalkan keriuhan ibadah yang biasa dilakukan setiap tahunnya.

Keutamaan beruzlah

Korona ini memaksa orang sebagai makhluk sosial yang suka bergaul untuk melakukan Uzlah menyendiri yang terus terang bila keadaan normal sangat sulit sekali seseorang itu memilih jalan Uzlah ini. Sebagai hamba Allah perlu sewaktu waktu seseorang itu melakukan Uzlah untuk dapat berinstropeksi ber muhasabah sampai sejauh mana amalan yang sudah di perbuat dan sejauh mana bekal yang sudah disiapkan untuk diakhirat nanti.

Bila tidak ada korona, praktis hal tersebut disingkirkan dengan kesibukan dan keriuhan untuk memburu dunia. Dengan Korona dengan diam di rumah, nilai keluarga yang dulunya terancam karena kesibukan kerap ditinggalkan menemukan momennya. Seorang ayah akan melihat anaknya belajar secara online dan sesekali tentu ikut membantunya. Seorang ayah akan semakin paham pekerjaan seorang istri yang 24 jam melakukan pekerjaan rumah tangganya.

Imam Gazali menyatakan orang yang beruzlah hendaknya telah menyiapkan diri dengan berbagai amalan seperti dzikir kepada Allah dan merasa puas bila amalannya hanya diketahui Allah saja, bukan karena dilihat orang lain, tiada berharap orang mengetahui kezuhudannya dan lain lain.

Semua itu dilakukan karena kuatir menjadikan itu semua sebagai riya’. Dengan beruzlah, diri menjadi tenang beribadah, terhindar dari maksiat dan pandangan orang lain yang dapat membuatnya bangga dan pengaruh orang-orang jahat yang mengajaknya maksiat.

Beberapa Ulama juga sepakat bahwa dalam beruzlah hendaknya memiliki persiapan dengan dipenuhi syarat ilmunya terlebih dahulu barulah menetapkan pilihan itu sebagaimana disampaikan Annakha’i : Pandaikanlah dulu dirimu, kemudian,  bolehlah  kamu mengucilkan diri.

Annakha’i menyampaikan bahwa uzlah tanpa diserta ilmu hanyalah kesia-siaan waktu saja, sebab akan banyak tidur dan diri tetap dalam kebimbangan dan kebingungan semata. Hal ini dapat menipu dan akan menjadi tertawaan bagi setan. Sebab ia mengira dengan beruzlah dirinya adalah termasuk salah satu golongan ahli ibadah yang sungguh-sungguh padahal tidak.

Memaknai kembali makna sibuk

Korona juga memaksa semua yang dulunya sibuk tiada henti menjadi sebaliknya semua orang dihimbau hanya dirumah menjadikan daerah yang kita tinggal menjadi sepi untuk beberapa waktu. Hal ini dapat menjadi pembelajaran untuk melihat lebih jelas bagaimana kesibukan yang sudah dilakukan dan mencoba untuk mengelolanya kemudian sehingga menjadi bernilai di mata Allah.

Naifnya, orang sekarang sangat bangga bila mendapat cap sibuk. Sibuk diartikan bahwa dirinya orang penting, berjadwal padat, sukar dihubungi dan menjadi tidak jelas bagaimana menemuinya karena saking sibuknya. Sah sah saja untuk sibuk yang demikian, masalahnya apakah sudah sesuai dengan  sibuk yang dilakukan dengan hasil yang didapat?.

Disini bukan berarti mengajak untuk mengukur seseorang dengan materi, namun hanya untuk mengingatkan kembali atau untuk menata kembali makna tentang sibuk itu. Sibuk sebagai manifestasi kesungguhan tidaklah menjadi masalah, namun apakah harus sesibuk itu untuk mencari rezeki seakan waktu yang disediakan 24 jam masih kurang sehingga perlu ditambah menjadi 30 jam sehari semalam.

Anehnya yang berprilaku demikian sibuk, hasil yang didapat tidak selalu sejalan. Yang terlihat adalah semakin sibuk seseorang kadang kemiskinan tetap membayang, padahal mereka telah bersungguh-sungguh berangkat kerja sebelum shubuh dan kembali setelah Isya dan kadang waktu istirahat juga terpakai.

Mengamati perbandingan adanya perbedaan Allah dalam memberikan karunia kepada orang yang sibuk itu lantas muncul pertanyaan, apakah Allah lalai kepada orang sibuk itu? apakah tidak ada balasan bagi mereka yang sibuk dengan kesungguhan mereka dalam bekerja?.

Jawabnya tentu sebagai muslim adalah semuanya tiada yang luput dari pandangan Allah dan Allah maha adil dalam menetapkan seseorang untuk diberikan rezeki kepada hambaNya. Dilapangkan atau disempitkan rezekinya kepada yang disukai dan dibenciNya adalah wewenang Allah. Bila demikian pertanyaannya tentu ada yang salah dalam diri melakukan kesibukan.

Bila demikian, coba introspeksi sejenak pembagian waktu yang dilakukan dalam diri bersibuk ria itu.  adakah sedikit waktu diberikan untukNya, padahal diri tahu kalau semuanya kesehatan, kepandaian dan kekuatan diri dalam bekerja adalah karunia Allah.

Sudahkah dipenuhi amanat tubuh untuk beribadah dan harta yang diperoleh dikembalikan sebagian ke jalan Allah? Sudahkah waktu kesibukan itu terbagi secara adil bagi keluarga atau yang menjadi tanggungannya? dan lain sebagainya.

Nah dari situ sudah jelas, maka momen korona ini dapat digunakan untuk menilai kesibukan diri kita selama ini, jangan sampai kesibukan yang sudah dilakukan malah hasilnya berbalik berupa kerugian sebagaimana  hadist terkait hal ini sebagai berikut:

Dari riwayat   Imam Al Hasan, ia berkata : “Tanda bahwa Allah menjauh dari seseorang yaitu apabila orang itu sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna bagi kepentingan akhiratnya”

Anas bin Malik Ra bahwasanya Nabi Saw bersabda: Dalam hadist Qudsi bahwa Tuhan telah berfirman : Wahai anak adam, menyembahlah kepadaKu dengan sungguh-sungguh, niscaya aku akan penuhi hatimu dengan kekayaan dan kedua tanganmu dengan rezeki.

Wahai anak adam janganlah engkau menjauh dariku sebab jika menjauh niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan kefakiran dan tanganmu dengan kesibukan yang sia-sia (HR Athabrani dan AlHakim)

Nabi Saw bersabda: Aku menjamin 3 hal untuk 3 orang : Untuk yang sibuk terhadap dunia, orang yang paling loba akan dunia dan orang yang kikir terhadap dunia, dengan kemiskinan yang tidak ada kaya setelahnya, sibuk yang tiada hentinya dan susah yang tiada gembiranya

Namun demikian tidak ada alasan sibuk dengan melalaikan ibadah, karena hal itu telah  dicontohkan bahwa Nabi Sulaiman As pemilik kerajaan yang sangat kaya dan tentunya sangat sibuk, namun tetap taat beribadah.

Wallahu a’lam

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.